Senin, 14 Maret 2011

Apakah Strategi Guru tentang Gaya Mendalam/Dangkal dalam Dikotomi Gaya Belajar dan Berpikir Dapat Meningkatkan Kemampuan?

Gaya mendalam/dangkal adalah sejauh mana murid mempelajari materi pelajaran dengan suatu cara yang membantu mareka memahami makna materi (gaya mendalam) atau sekedar mencari apa-apa yang perlu dipelajari (gaya dangkal).

Strategi guru dalam membantu pelajar dangkal agar berpikir secara mendalam, yaitu:
  • ·         Pantau murid untuk mengetahui mana yang merupakan pembelajaran dangkal
  • ·         Diskusilah dengan murid bahwa ada yang lebih penting dari sekedar mengingat materi
  • ·         Ajukan pertanyaan dan beri tugas yang mensyaratkan murid untuk menyesuaikan informasi dengan kerangka yang lebih luas
  • ·         Jadilah seorang model yang memproses informasi secara mendalam, bukan sekedar mamberi informasi di permukaan saja
  • ·         Jangan menggunakan pertanyaan yang membutuhkan jawaban ya atau tidak


Sebagai contoh, ada seorang guru yang suka memantau muridnya. Semua muridnya dalam mempelajari materi berbeda-beda. Ada yang suka mempelajari materi sedalam-dalamnya. Maksudnya, anak itu tidak hanya menerima materi yang disampaikan oleh gurunya ini. Tapi, dia juga mencoba memahaminya dengan cara mencari informasi secara detail. Sedangkan, sebagian anak lagi hanya mempelajari materi yang hanya disampaikan oleh gurunya.

Untuk membantu muridnya agar berpikir secara medalam, guru ini menggunakan strategi yang dapat membantu muridnya tersebut. Guru itu, memantau muridnya untuk mengetahui mana murid yang berpikir secara dangkal ataupun dalam. Lalu guru ini memberikan materi bukan hanya untuk membuat muridnya hanya menerima materi tersebut. Tapi, guru itu berusaha membuat muridnya memahami materi dengan cara diskusi. Ada proses tanya jawab di antara guru dan murid. Guru itu memberikan pertanyaan yang membuat siswa berpikir dengan luas. Jadi, pembahasannya tidak hanya di materi itu-itu saja.

Dalam kasus diatas, di dapat bahwa strategi guru tentang gaya mendalam/dangkal dalam dikotomi gaya belajar dan berpikir dapat meningkatkan kemampuan murid. Guru itu berhasil membuat muridnya meningkatkan kemampuan berpikirnya. Karena, guru tersebut tidak hanya memberikan materi tetapi membuat siswanya memahami materi dengan memberikan pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang luas. Sehingga, muridnya berpikir secara luas. Tidak hanya di materi-materi itu saja. Dan, guru itu membuat siswanya lebih memahami materi dengan cara diskusi. Disitulah, murid itu dapat meningkatkan kemampuannya dalam belajar dan berpikir.

Sumber : Santrock, J.W. 2010. Psikologi Pendidikan edisi kedua.Jakarta: Kencana

Bagaimana Membuat Murid yang Tidak Tertarik untuk Belajar Menjadi Tertarik untuk Belajar?

Brophy (1998) percaya bahwa problem motivasi paling sulit adalah murid yang apatis, tidak tertarik belajar, atau teralienasi atau menjauhkan diri dari pembelajaran sekolah. Untuk mendekati murid yang apatis ini dibutuhkan usaha terus-menerus untuk mensosialisasikan kembali sikap mereka terhadap prestasi sekolah (Murdock 1999).

Adapun beberapa cara untuk mendekati murid yang tidak tertarik atau teralienasi (Brophy, 1998), yaitu :


  • ·         Kembangkan hubungan positif dengan murid
  • ·         Buat suasana di sekolah menjadi menarik
  • ·         Ajari mereka strategi untuk membuat belajar menjadi menyenangkan
  • ·         Pertimbangkan penggunaan mentor

Sebagai contoh, sewaktu saya masih duduk di bangku sekolah saya mempunyai teman yang sama sekali tidak tertarik untuk belajar. Saat yang lain sedang mencatat  materi atau mendengarkan guru yang sedang menjelaskan, teman saya ini tidak mendengarkan ataupun mencatat. Dia asyik mengajak teman sebangkunya untuk bermain. Semua guru pada kenal sama dia karena prestasinya di sekolah terhitung rendah. Dan ketika di tanya, dia menganggap prestasi itu tidak penting bagi dia.


Tapi, salah satu guru saya mendekatinya dan mencoba lebih dekat dengannya. Karena, waktu itu kami mau ujian kelulusan. Guru saya ini, menanyakan semuanya yang membuatnya tidak mendengarkan ataupun mencatat materi yang sudah disampaikan. Setiap ada masalah, guru saya ini selalu ada didekat teman saya ini untuk menanyakan dan membantunya, serta membuat teman saya ini mau berbagi.

Guru saya jadi tahu apa yang membuat teman saya  selama ini tidak tertarik. Guru saya ini pun , membuat suasana di ruangan menjadi menarik. Di akhir proses belajar, kami diberikan games-games yang berhubungan dengan materi. Terkadang, diakhir kami diberikan seperti cerita-cerita tapi ceritanya yang membuat kami mendapatkan informasi atau pengetahuan baru.

Beberapa hari kemudian setelah guru saya melakukan itu, sekarang teman saya ini mau mendengarkan dan mencatat materi. Dan guru saya mengajarkan cara belajar yang menyenangkan bagi kita. Waktu, itu kami pernah di suruh buat teka teki silang yang membantu kami memahami materi. Dan itu menyenangkan bisa membuat teka teki. Selain membantu memahami materi, kami juga tahu bagaimana membuat teka teki. Dan itu berhasil membuat teman saya menjadi tertarik untuk belajar. Tapi, masih tidak sepenuhnya tertarik. Dan guru saya suka memberikan dorongan padanya. Apa yang dikerjakannya selama ini sudah benar dan tugas-tugasnya juga sudah lumayan bagus dikerjakannya.
Tapi, guru saya ini tidak mau menyuruh kakak senior kami untuk mengajari teman saya ini. Karena, itu juga dihindarinya. Jadinya, teman saya ini menjadi tertarik untuk belajar. Guru saya pun tidak begitu khawatir lagi sama teman saya ini. Prestasinya pun, sudah lebih meningkat dari yang dulu.

Dari kasus diatas dapat didapat bahwa membuat murid yang tidak tertarik untuk belajar menjadi tertarik untuk belajar yaitu dengan pendekatan seperti yang dilakukan guru tersebut. Guru tersebut berhasil membuat muridnya menjadi tertarik untuk belajar dengan pendekatan tersebut. Adanya hubungan positif dengan murid, membuat suasana menjadi menarik, mengajari murid cara belajar yang menyenangkan,dan mempertimbangkan mentor. Pendekatan itu, terus dilakukan oleh guru saya. Sehingga teman saya ini menjadi tertarik dan menganggap prestasi itu penting.

Sumber : Santrock, J.W. 2010. Psikologi Pendidikan edisi kedua.Jakarta: Kencana

Kamis, 10 Maret 2011

Hujan Terindah & Terburuk


Lahirlah seorang anak yang sudah lama dinantinya. Ia begitu semangat meyambut kedatangan anaknya. Semua sudah disiapkannya dari lama. Ketika mendengar suara tangisan anak pertamanya, ia begitu senang dan ia mulai meneteskan air mata. “Alhamdulillah”, kata lelaki itu. Sekarang, ia sudah menjadi seorang ayah. Hari-hari barunya dimulai dan dilewati bersama sang buah hati.
*
“Kring… kring… kring…”, bunyi telepon rumah. Lelaki itu pun bergegas mengangkatnya. Sang istri lagi memandikan anaknya. “Telepon dari siapa,yah?”, tanya istrinya. Tapi, tidak ada jawaban dari lelaki itu. Sambil menggendong anaknya, si istri mendekati suaminya. Dilihatnya muka lelaki itu begitu sedih dan mengeluarkan air mata. Lalu, lelaki itu menutup teleponnya. “Ayah masuk Rumah Sakit dan ingin ketemu sama anak kita ”, kata lelaki itu kepada istrinya dengan terbata-bata. Suasana di rumahnya berubah menjadi hening. Hanya suara tangisan dari sang istri dan celoteh dari sang anak yang terdengar. Saat itu juga, lelaki itu langsung ke rumah sakit dan membawa anaknya. Ketika sampai di RS mereka langsung ke ruang ICU. “Mana anakmu?”, tanya ayah laki-laki itu. Lelaki itu langsung mendekatkan anaknya ke ayahnya. Si kakek berusaha mengangkat tangannya dan menyentuh wajah cucunya. Cucu pertamanya dan terakhirnya. Karena, saat itu juga sang kakek meninggal dunia. Hanya 5 menit si kakek menyentuh wajah cucunya. Betapa beruntungnya cucu pertamanya itu, karena cuma dia satu-satunya cucu yang sempat bertemu dengan kakeknya. Lelaki itu tidak bisa bicara apa-apa. Perasaannya bercampur aduk, senang dan sedih. Laki-laki itu memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Sampai tiba saatnya penguburan ayahnya. Lelaki itu, terpaksa membawa anaknya ke kampungnya. Padahal, usia anaknya masih 16 hari.
*
Beberapa minggu kemudian, lelaki itu sudah bisa melupakan rasa sedih yang selalu menghampirinya. Dan yang membuatnya bisa tertawa lagi adalah anaknya. Anaknya yang suka mengganggunya dengan tingkahnya yang lucu.
Sejak ayah meninggal, lelaki itu mengalami kesulitan ekonomi. Ia harus membayar uang kuliah adik-adiknya. Biasanya, ia hanya membantu ayahnya untuk membayar uang kuliah. Semua pekerjaan dilakukan lelaki itu asalkan halal. Demi sang buah hati dan demi adik-adiknya. Dia tidak pernah mengeluh akan pekerjaannya. Semua dikerjakannya dengan ikhlas dan dia selalu tersenyum. Dan ia selalu mengannggap masalah sebagai tantangan.
Akhir-akhir ini, jarang aku melihat laki-laki itu. Yang akrab aku panggil “Owan atau Om Iwan”. Owan selalu menasehatin aku dan mengajari aku untuk menjadi lebih dewasa. Dia selalu mengajari aku untuk tidak selalu mengeluh dan menerima semuanya dengan ikhlas. Mengajariku untuk tidak menyerah sama keadaan. Aku selalu teringat dengan kata-katanya.
Terimalah apapun yang diberikan Allah padamu. Insya Allah itu yang terbaik yang dipilih Allah untukmu. Dan jangan menyerah sama keadaan. Hadapi masalah itu sebagai tantangan karena itu bisa buat kita semangat menghadapinya.
Aku tidak bisa bayangin kalau aku jadi Owan. Tapi, aku yakin Owan pasti bisa melewati ini. Sorenya, aku melihat Owan sedang duduk dan melamun. Tidak biasanya Owan seperti ini. Aku langsung menghampiri Owan.
“Owan!”, panggilku.
“(Tersentak kaget) Eh!, Ai”, kata Owan.
“Owan kenapa?. Kok melamun dan sendiri lagi. Zulfa kok tidak di bawa, Owan!. Ai rindu ini sama Zulfa. Oh ya, Owan!. Tante kok juga jarang kelihatan sekarang. Tante sehatkan, Owan?”, tanyaku.
Owan tersenyum dan menjawab, “ Owan tidak apa-apa. Owan hanya sedang berpikir saja, Ai!. Zulfa lagi di rumah sama Tante. Soalnya, Zulfa lagi kurang sehat. Makanya, Tante juga jarang kelihatan. Alhamdulillah, Tante sehat.”
Aku pun tersenyum dan langsung diam. Setelah beberapa menit kami diam, Owan mulai cerita tentang apa yang dipikirkannya.
“ Owan bingung mau kerja yang bagaimana lagi. Semua kerja yang halal sudah Owan lakukan. Hanya tinggal jadi tukang becak yang belum Owan lakukan. Owan ingin kerja itu, tapi becaknya tidak ada”, kata Owan.
Sedih rasanya mendengar cerita Owan. Owan sudah aku anggap sebagai orangtuaku karena aku tinggal sendiri. Ingin aku membantu Owan. Tapi, aku juga tidak bisa membantu Owan. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah menyemangatin Owan. Seperti, yang selama ini Owan lakukan untukku.
“ Owan selalu bilang sama Ai untuk tidak menyerah sama keadaan dan Owan juga bilang kita harus terima apapun yang diberikan-Nya. Karena, itu Insya Allah jalan yang terbaik untuk kita. Ini semua tantangan untuk Owan. Seperti yang sering Owan bilang sama Ai. Mana Owan yang Ai kenal?. Yang tidak menyerah sama keadaan”, kataku pada Owan.
Owan hanya diam tidak berkata apa-apa.
Hari itu pun berlalu begitu saja. Di rumah, Owan langsung di hibur sama Zulfa. Saat ini, hanya Zulfa yang bisa menghibur Owan. Zulfa yang membuatnya selalu tersenyum dan mampu bertahan sampai sekarang ini. Tante juga selalu mendukung Owan. Sepulang owan kerja, tante selalu memberikan perhatian yang lebih pada Owan. Dan tante juga mencoba memberikan pelayanan yang baik dirumah.
*
Beberapa tahun kemudian, Owan masih melakukan pekerjaan itu. Hari-hari dilalui Owan tanpa mengeluh lagi dan Owan tidak pernah menyerah sama keadaan. Owan yang sekarang lebih terlihat bahagia dari sebelumnya. Karena Zulfa anak satu-satunya Owan sudah menyelesaikan sekolah sampa tingkat menengah atas dan adik Owan juga sudah menyelesaikan kuliahnya. Aku yang menyaksikan peristiwa itu, juga ikut manangis karena terharu akan perjuangnya sebagai ayah dan juga abang bagi adik-adiknya.
Kulihat Owan dan tante juga ikut meneteskan airmata melihat peristiwa itu. Bisa aku rasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan keluarga ini. Berjuangan yang tidak sia-sia yang selama ini dilakukannya. Bahkan sampai anaknya selesai kuliah, Owan masih saja melakoni pekerjaannya itu. Pekerjaan yang tidak menetap. Apa saja dilakoni Owan asalkan halal.
Sore itu, aku main ke rumah Owan. Karena, kabarnya Owan sakit. Tibanya di rumah Owan, aku pun langsung menjumpai Owan. Aku dan Owan banyak bercerita tentang yang lalu.
“ Ternyata Ai benar. Semuanya itu harus kita terima. Apapun yang diberikan-Nya pada kita. Dan itu memang yang terbaik untuk Owan. Terimakasih ya, Ai!. Kamu selalu mendukung Owan. Sama seperti Tante yang selalu ada dan mendukung Owan untuk tidak menyerah sama keadaan. Makasih ya, Ai!. Ai sudah Owan anggap sebagai anak Owan sendiri.”, kata Owan.
“ (Aku tersenyum) Sudah seharusnya Ai mendukung Owan. Selama ini kan, Owan yang selalu mendukung Ai dan menasehati Ai bahkan mengajari untuk menjadi dewasa. Dan kata-kata itu dari Owan, Ai hanya mengingati Owan akan kata-kata yang pernah Owan ucapkan ke Ai. Lagian Owan, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang, semua sudah berubah Owan. Masa-masa sulit itu sudah Owan lewati bersama keluarga Owan dan sekarang Zulfa juga sudah kerja. Jadi, Owan bisa lebih santai. Sama-sama Owan. Ai juga mau bilang terimakasih sama Owan dan Tante. Ai juga sudah nganggap Owan sebagai Papa Ai.”, jawabku.
Hari itu pun aku habiskan bersama Owan. Hari yang penuh dengan canda tawa bersama Owan, Tante dan Zulfa. Adik-adik Owan sudah tidak tinggal bersama Owan lagi. Karena, mereka juga sudah berkeluarga. Bahagia rasanya bisa berkumpul bersama keluarga. Aku jadi ingin pulang ke kampung. Beberapa hari, aku bermalam di rumah Owan karena permintaan beliau. Karena sakitnya juga tidak kunjung sembuh. Semakin hari semakin parah. Hingga akhirnya, Owan menghembuskan nafas terakhirnya. Sedih rasanya, tapi itu sudah kehendak-Nya.
Itulah lelaki yang kukenal setelah Papa kandungku. Seperti itulah dia, yang tidak mau menyerah sama keadaan. Dan selalu tegar dalam masalah. Aku sebagai anak angkatmu, akan selalu mengenangmu dan mengingat kata-katamu. Terimakasih untuk semuanya, Owan. 

Selasa, 08 Maret 2011

Metode Pembelajaran Seperti Apakah yang Bisa Membantu Murid untuk Bisa Memahami Materi?

Sewaktu saya SMP, metode di sana yang diterapkan adalah teacher-centered. Proses pembelajaran lebih berpusat pada guru. Guru lebih banyak menjelaskan dan murid hanya mendengarkan. Tapi ada guru saya, yang menggunakan metode itu dapat membuat muridnya paham.

Guru saya ini, suka mengulang-ulang kalimat atau kata yang penting. Jadi, muridnya pun jadi ingat materi yang disampaikan. Guru saya ini, juga menerangkan materi dengan bahasanya sediri atau bahasa yang lebih sederhana agar muridnya lebih mudah untuk memahami materi. Setiap ada soal atau kasus, guru saya ini menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Sehingga, muridnya jauh lebih paham dan bisa membantu murid untuk menyelesaikan problem-nya. Dalam memecahkan masalah atau menyelesaikan soal, guru saya ini membuat atau membagi kategori-kategori dari soal tersebut yang memudahkan kami untuk memahami soal tersebut. Lalu guru saya, setelah membuat atau membagi kategori tersebut menggabungkannya. Dari situlah, kami tahu jawabannya dan mendapat informasi baru. Lalu, guru mengajarkan kami cara mengevaluasi informasi tersebut dan cara menilainya.

Kami selalu diajarkan begitu dan membuat kami terbiasa untuk terus belajar seperti itu. Di pelajaran lain pun kami melakukan itu. Karena itu, dapat membantu kami untuk lebih paham tentang materi yang disampaikan.

Dalam pendekatan Teacher – Centered ada pendekatan taksonomi instruksional. Taksonomi adalah system klasifikasi. Taksonomi mengklasifikasikan sasaran pendidikan menjadi tiga domain: kognitif, afektif, dan psikomotor.
Domain Kognitif mengandung enam sasaran, yaitu:
·         Pengetahuan
·         Pemahaman
·         Aplikasi
·         Analisis
·         Evaluasi

Seperti kasus di atas. Seorang guru menerapkan metode domain kognitif yang dapat membantu muridnya untuk memahami materi. Guru tersebut berhasil menerapkan metode pengajaran teacher-centered yang menggunakan pendekatan taksonomi instruksional. Tidak selamanya, murid yang diam dan hanya guru yang menjelaskan tidak memahami materi yang disampaikan. Banyak metode yang dapat digunakan. Tapi, menurut saya metode ini dapat membantu murid untuk lebih paham.

Kasus diatas menjelaskan, seorang guru yang mengajarkan muridnya secara bertahap. Yang nantinya murid tersebut bisa menggunakan dan menarapkan metode itu untuk membantunya dalam proses belajar.

Sumber : Santrock, J.W. 2010. Psikologi Pendidikan edisi kedua.Jakarta: Kencana

KOMENTAR PERKULIAHAN 08 MARET 2011

Johari windows atau Jendela Johari mencerminkan bagaimana kita mengenal diri kita dan orang lain. Dalam perkuliahan tanggal 08 Maret 2011, kami diminta oleh dosen pengampu untuk mendeskripsikan teman-teman. Setelah membuat deskripsinya, kami bersama-sama mengevaluasinya. Lalu, kami diminta untuk menghubungkan dengan teori-teori yang ada. Sebenarnya, bagian ini yang lumayan sulit bagi saya. Karena, teori kognitif lumayan banyak.

Saya lebih menggunakan teori Piaget untuk mendeskripsikan teman-teman dan mengetahui apa yang teman deskripsikan tentang saya. Piaget mengatakan ada dua proses yang bertanggung jawab atas cara anak menggunakan dan beradaptasi, yaitu: Asimilasi dan Akomodasi.

Asimilasi adalah suatu proses mental yang terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Asimilasi itu proses pengamatan. Dimana, kita mengamati sesuatu dan informasi yang kita dapat itu, kita masukkan kedalam pikiran kita. Lalu, kita bisa menilainya. Ini lebih kepada kita yang menilai teman kita.
Akomodasi adalah suatu proses mental yang terjadi ketika anak menyesuaikan diri dengan informasi baru. Akomodasi itu proses menyesuaikan diri. Setelah kita menilai orang dan orang itu juga menilai kita. Di akomodasi ini, kita menyesuaikannya. Kalau kita salah menilai teman kita, kita rubah penilaian kita terhadap dia. Tapi, jika teman kita yang salah menilai kita, kitalah yang menyesuaikan diri kita sama teman kita.

Motivasi saya untuk melakukan deskripsi tersebut adalah karena saya ingin berhubungan dengan orang lain secara aman dan lebih akrab. Seperti teori Perspektif Sosial yang Kebutuhan Afilasi atau Keterhubungan. Kebutuhan afilasi atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Saya termotivasi untuk lebih akrab dan dekat dengan teman. Jadi, saya memberikan penilaian terlebih dahulu lalu saya menyesuaikannya agar saya lebih bisa akrab dengannya. Dan itu bisa membantu saya lebih mengenal diri saya dan orang lain.

Sumber : Santrock, J.W. 2010. Psikologi Pendidikan edisi kedua.Jakarta: Kencana