Senin, 30 September 2013

TEORI PROSES BELAJAR, Pengkondisian Berpenguat Skinner


Tujuan setiap sains atau ilmu pengetahuan adalah menemukan hukum hubungan di antara kejadian-kejadian alam di lingkungan. Karena itu, ilmu perilaku harus menemukan hukum-hukum relasi di antara kejadian lingkungan dengan perilaku. Untuk mengembangkan psikologi sebagai sains, Skinner menetapkan beberapa syarat untuk riset behavioral. Pertama, teori dan diskusi keadaan internal tidak boleh menjadi basis untuk riset. Kedua, periset harus melakukan eksperimen dengan subjek individual dan memanipulasi kejadian yang dapat diamati latar yang terkontrol. Ketiga, periset harus mendefenisikan sifat perilaku dan kondisi eksperimental dalam istilah fisik. Skinner mendefenisikan frekuensi respons sebagai ukuran dari kemungkinan respon masa depan. Dengan kata lain, ketika belajar terjadi, respons meningkat.
Ada tiga klasifikasi penguatan umum. Pertama adalah penguatan primer dan sekunder (yang dikondisikan). Penguatan primer adalah penguatan yang dalam kondisi tepat, dapat meningkatkan frekuensi perilaku tanpa pelatihan (pangan, papan, minuman, dan kontak seksual). Penguatan sekunder atau dikondisikan akan mendapatkan kekuatan penguatan melalui asosiasi dengan kejadian yang telah berfungsi sebagai penguat. Kedua adalah penguat umum. Penguat umum adalah penguat yang berfungsi dalam berbagai macam situasi. Penguat yang digeneralisasikan ini biasanya ada dua; penguat sosial dan manipulasi lingkungan fisik yang sukses.
Ketiga adalah penguat positif atau negatif, adalah cara konsekuensi penguatan berfungsi. Dalam penguatan positif, respons memproduksi stimulus baru; misalnya, penekanan tuas menghasilkan makanan. Sebaliknya, penguatan negatif adalah penarikan atau terminasi stimulus diskriminatif. Istilah lain untuk penguatan negatif adalah pengkondisian penghindaran karena perilaku yang memengaruhi penghindaran dari stimuli penolakan akan diperkuat. Salah satu masalah yang diasosiasikan dengan penguatan negatif adalah munculnya respons emosional yang tidak diharapkan, seperti kecemasan dan ketakutan. Akan tetapi di banyak situasi, baik itu positif maupun negatif berfungsi memperkuat perilaku.
Ada empat faktor dalam penguasaan pola perilaku. Faktor itu adalah pembentukan, jadwal penguatan, konsep kegunaan negatif, dan perilaku yang diatur peraturan. Pembentukan terdiri dari serangkaian stimuli diskriminatif dan penguatan untuk perubahan respons yang halus. Proses ini mengilustrasikan perkembangan perilaku kompleks melalui penguatan differensial. Pembentukan adalah penting karena ia menimbulkan perilaku yang hampir mustahil terjadi secara alamiah dalam bentuk finalnya.
Dalam laboratorium, penguatan bisa diberikan sesuai dengan jadwal rasio (ditentukan oleh jumlah respons) atau jadwal interval (ditentukan oleh jam). Waktu untuk masing-masing jadwal bisa tetap atau variabel. Salah satu keuntungan dari penguatan rasio-variabel adalah ia mempertahankan perilaku dari pelenyapan  ketika penguatannya jarang. Akan tetapi, ketika jadwal rasio-variabel menimbulkan kerusakan dalam jangka panjang, proses ini dinamakan kegunaan negatif. Kecanduan berjudi adalah contohnya.
Penguatan untuk respons yang dilakukan adalah penguatan yang diatur oleh kemungkinan. Akan tetapi, tidak semua perilaku didapat melalui eksposure langsung pada konsekuensi respons. Sebaliknya, orang sering mengikuti nasihat, instruksi, atau petunjuk. Perubahan perilaku terjadi karena mereka diperkuat di masa lalu. Perilaku semacam itu, yang disebut perilaku yang diatur peraturan, berbeda dengan perilaku yang diatur kemungkinan dalam dua hal. Perilaku lebih efektif dilakukan dalam kondisi diatur kemungkinan dan dilakukannya perilaku itu di masa depan akan lebih dimungkinkan.
Peran stimuli diskirminatif dalam pembelajaran adalah sebagai petunjuk untuk perilaku tertentu. Di kelas, baik itu stimuli verbal maupun nonverbal mengarahkan perhatian siswa, mengawali aktivitas akademik, dan merupakan hal penting dalam mengembangkan proses diskriminasi stimulus dan generalisasi. Aspek penting dari pembelajaran yang sukses adalah mentransfer kontrol stimulus yang mendorong dan memberi petunjuk pada stimuli di dalam diri pemelajar, dan ini adalah karakteristik yang sering tidak ada dalam pembelajaran komputer. Pemilihan stimuli diskriminatif yang tepat juga penting dalam mengembangkan perilaku yang tidak kompatibel dengan respons yang tidak tepat.
Yang penting dalam pembelajaran yang efektif adalah penggunaan penguat alamiah dengan tepat, kejadian dalam latar yang memberikan tanggapan non-aversif, dan penguat terencana, seperti komentar verbal dan penolakan awal. Penguat terencana dapat digunakan secara efektif jika digunakan pada tahap awal pengembangan perilaku yang kompleks, dipasangkan dengan penguat seperti persetujuan dan perhatian, dan perlahan-lahan dihilangkan setelah penguat alamiah berfungsi. Yang juga penting adalah menghindari kesalahan waktu penguatan. Kontrol aversif juga harus dihindari karena dapat menimbulkan efek samping emosional. Namun, teguran halus dapat efektif untuk unit perilaku yang kecil.
Pembentukan perilaku di kelas pertama-tama membutuhkan spesifikasi yang jelas untuk perilaku yang akan dipelajari. Kedua, keterampilan awal (entry skill) dari pemelajaran harus diidentifikasi. Kemudian, pokok pelajaran harus diprogram secara hati-hati dengan langkah bertahap sehingga pengajarannya bisa menjamin kesuksesan tindakan. Program yang awalnya memberikan dukungan pengajaran, yang pelan-pelan ditarik atau dihilangkan, dan menggunakan aproksimasi suksesif adalah program yang menggunakan teknik pengkondisian berpenguat. Manajer kelas yang efektif juga menggunakan metode untuk mengajarkan perilaku yang tepat di kelas.
Alat mekanis yang disebut mesin pengajaran dikembangkan oleh Skinner untuk mengajarkan mata pelajaran yang terprogram. Komputer adalah lebih baik ketimbang mesin pengajaran, karena komputer dapat memberikan aspek kehidupan nyata ke dalam ruang kelas dan juga mengembangkan berbagai macam penguat potensial yang bisa dipakai. Namun, software tidak boleh dipenuhi dengan animasi atau grafis yang indah untuk menarik perhatian siswa, sebab hal itu dapat mengganggu siswa dalam belajar. 

Sumber : Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instructiona: Teori dan Aplikasi. Jakarta : Kencana.

Senin, 23 September 2013

OTAK MANUSIA



Otak manusia adalah sistem alamiah yang paling kompleks yang pernah dikenal di alam ini; kompleksitasnya menyamai dan mungkin melebihi kompleksitas struktur ekonomi dan sosial yang paling rumit sekalipun. Otak adalah bidang ilmu yang baru. (Goldberg, 2001)
Perkembangan metode neuroimaging yang dapat memonitor aktivitas otak selama tugas kognitif atau behavioral adalah penyebab utama dari munculnya neurosains kognitif. Metode-metode awal di antaranya adalah studi kasus terhadap pasien dengan kerusakan otak dan pengubahan otak hewan melalui pembedahan.
Metode baru dapat memproduksi peta aktivitas otak berdasarkan perubahan dalam aktivitas elektrik (EEG), metabolisme otak (scan PET), atau blood oxygenation (fMRI). Kelemahannya antara lain akurasi aktivitas elektrik yang dicatat (EEG), hubungan hipotesis antara perubahan dalam darah atau level oksigen dengan aktivitas neural, metode substraksi citra, praktik konversi data ke citra otak standar, kekurangan dalam software analisis data, dan ketidakmampuan mendeteksi sinyal kelemahan.
Beberapa studi yang dirancang dengan baik memberikan sedikit pengetahuan tentang potensi riset otak untuk perkembangan kognitif dan belajar. Diantaranya adalah korelasi otak dengan pemikiran pra-operasional, relasi antara PKU dengan pemikiran pra-operasional, dan riset pemrosesan informasi dan memori episodik dan semantik. Juga, penemuan neuron cermin mengidentifikasi sistem neural yang bereaksi pada : (a) tugas-tugas tertentu yang dilakukan orang lain dan niat mereka; dan (b) observasi dan pelaksanaan perilaku yang mengindikasikan rasa senang atau jijik. Yang disebut belakangan tersebut adalah indikasi dari empati yang dirasakan individu terhadap individu lain. Riset juga mengindikasikan bahwa neuron cermin dari individu autis hanya memberi sedikit reaksi atau tidak bereaksi sama sekali pada gerakan orang lain dan ekspresi wajah yang berbeda.

Sumber : Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instructiona: Teori dan Aplikasi. Jakarta : Kencana.

TESTIMONI KULIAH ONLINE PADA TANGGAL 19 SEPTEMBER 2013

         Kuliah online menurut saya menyenangkan. Banyak yang didapat yang jarang didapat kalau belajar di kelas. Namun, terkadang menyebalkan ketika jaringan modem tidak bagus atau baterai sudah mulai habis dan mati lampu. Perkuliah online pada tanggal 19 September 2013, menyenangkan namun harus berpikir keras dan cepat dalam  menjawab pertanyaan agar tidak tertinggal dari teman-teman yang lain. Dan melihat jawaban dari teman-teman yang lain membuat kuliah menjadi seru. Apalagi semua peserta memberikan jawabannya. 

HASIL DISKUSI TEORI GESTALT

Kelompok :
Riri Amalia                10-003
Tika Ramadhani       10-018
Indah Kartika           10-108
Efrianty Shaila          10-119

Teori Gestalt

    Bedasarkan hasil diskusi kelompok kami mengenai empat asumsi dasar dari teori Gestalt, kami mendapatkan bahwa : 
(1) Yang mestinya dipelajari ialah perilaku moral, bukan molecular. Jadi dalam kuliah online yang dinilai itu bukannya jawaban peserta saja tapi kinerja peserta dalam kuliah online dalam mengikuti proses kuliahnya. Misalhnya kinerja bagaimana menyusun jawaban sehingga menjadi jawaban yang mudah dipahami kemudian mengetik dengan penulisan yang baik dan seberapa lama ia menjawab pertanyaan-pertanyaan. 
(2) Organisme merespon keseluruhan sensori-sensori yang tersegregasi, ketimbang pada stimuli spesifik atau kejadian-kejadian  yang terpisah atau independen. Jadi dalam kuliah online, peserta tidak hanya merespon pada stimulus berupa pertanyaan  yang harus dijawab. Tapi peserta merespon semua stimulus terkait, misalnya fasilitas internet dengan merespon stimulus tersebut mungkin kita akan mendapatkan jawaban yang tepat dengan mencari referensi lain misalnya menggunakan google. 
(3) Individu memahami aspek dari lingkungan sebagai organisasi stimuli, dan merespon berdasarkan persepsi tersebut. Misalnya, dalam kuliah online melihat teman-teman menjawab pertanyaan dengan cepat dan langsung di feedback. Dengan melihat seperti ini peserta akan mempersepsikan bahwa kuliah kita cepat jawab pasti di feedback sehingga peserta juga akan terdorong untuk menjawab dengan cepat agar bisa di feedback
(4) Organisasi lingkungan sensori adalah interaksi dinamis dari kekuatan-kekuatan di dalam struktur yang mempengaruhi persepsi individu. Misalnya, dalam mempersepsikan tentang kuliah online. Ada peserta yang menganggap kuliah online menyenangkan. Karena bisa santai, bisa mendapat referensu dan sambil istirahat di rumah. Mungkin hal ini karena peserta tersebut memiliki fasilitas yang lengkap sehingga mudah baginya melakukan kuliah online. Namun, bagi peserta yang mungkin harus ke warnet atau memiliki kesibukan lain, tentu ia mempersepsikan hal yang berbeda mengenai kuliah online. Karena persepsi kita dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada kita.


Senin, 16 September 2013

TEORI-TEORI BELAJAR AWAL

Di setiap masa, sains adalah hal-hal yang dihasilkan oleh riset, dan riset tidak lain adalah metode efektif yang telah ditemukan dan sesuai dengan zamannya. Setiap langkah dalam kemajuan sains atau ilmu pengetahuan akan bergantung pada langkah sebelumnya, dan proses ini tidak bisa dipercepat hanya dengan berharap. (Boring, 1930)

Pengkondisian Klasik dan Koneksionisme
Di awal abad ke-20, disiplin psikologi yang baru terbentuk sedang mencari arah dan fokus. Studi Watson tentang perilaku dengan tujuan menjelaskan hubungan antara stimuli dan respons menjadi perspektif dominan. Asumsi utama behaviorisme adalah bahwa perilaku yang dapat diamati adalah fokus studi, yang harus dipelajari adalah elemen paling sederhana dari perilaku adalah perubahan behavioral.
Istilah behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Asumsi itu adalah: (1) Yang menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekontruksi verbal atas kejadian. (2) Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respons spesifik). Contoh reaksi behavioral yang diteliti oleh periset awal antara lain gerak refleks, reaksi emosional yang dapat dilihat, dan respons motor (gerak) dan verbal. (3) Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respons khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.
Pengkondisian refleks dalam eksperimen Bekheterev dan Pavlov merefleksikan asumsi ini dan mendemonstrasikan bahwa relasi natural antara stimulus dan refleks yang terasosiasikan dapat diubah. Riset ini memuat asumsi bahwa sebab-sebab dari perilaku yang kompleks akan dapat diungkap.
Melatih refleks untuk merespons stimulus baru membutuhkan pemasangan berulang kali antara stimulus tersebut dan stimulus yang secara alamiah memunculkan refleks. Sebagai hasilnya, stimulus yang dikondisikan (CS) akan menimbulkan respons yang dikondisikan (CR). Ini disebut pengkondisian klasik. Model ini menjelaskan respons hewan terhadap petunjuk atau isyarat yang diasosiasikan dengan bahaya dan identifikasi metode untuk menghadapi reaksi maladaptif pada hewan dan manusia. Selain itu, model ini menjelaskan perkembangan Conditional Compensatory Responses (CCRs) terhadap petunjuk sebelum pemberian obat dalam latar yang biasa untuk pemberian obat. Fenomena ini menjelaskan toleransi obat dan overdosis obat.
Riset Thorndike terhadap hewan adalah meneliti perilaku mandiri hewan, bukan reaksi refleks. Setelah melihat makin cepatnya hewan berhasil mencapai makanan, dia menyimpulkan bahwa respons yang tepat “tertanam” melalui asosiasi dengan akses ke makanan, yakni suatu keadaan yang memuaskan (hukum efek). Risetnya tentang transfer belajar mengindikasikan bahwa training pada tugas tertentu hanya memfasilitasi belajar pada tugas yang sama, dan bahwa mata pelajaran sekolah yang sulit tidak berfungsi sebagai latihan mental untuk memperkaya keterampilan berpikir.
Dua pendekatan belajar lainnya, yang disebut teori S-R, dikembangkan oleh Clark Hull dan Edwin Guthric. Hull mendeskripsikan penguatan sebagai pemenuhan kebutuhan biologis dan Guthric mengidentifikasi prinsip belajar tunggal, asosiasi atau kontiguitas dari stimulus dan respons.

Psikologi Gestalt
Psikologi Gestalt berfungsi sebagai penentang behaviorisme di pertengahan abad ke-20. Psikologi Gestalt berpendapat bahwa yang diteliti seharusnya perilaku molar, bukan molecular. Psikologi Gestalt fokus pada persepsi dalam belajar. Organisme merespons keseluruhan ketimbang stimuli spesifik, organisasi stimuli memengaruhi persepsi, dan individu membangun persepsi ketimbang hanya menerima informasi secara pasif. Karakteristik tampilan stimulus yang memengaruhi persepsi adalah komprehensivitas dan stabilitas gambaran (hukum Pragnanz), dan karakteristik lain yang memberi kontribusi pada kelengkapan struktur atau pola.
Psikologi Gestalt memberi kontribusi beberapa konsep untuk memahami pemecahan masalah. Mungkin yang paling terkenal adalah konsep pemahaman yang melibatkan reorganisasi persepsi seseorang untuk “melihat” solusi. Analisis kontemporer mengindikasikan bahwa pemahaman kreatif pada masalah baru memerlukan kerja keras dan riset, periode inkubasi, momen wawasan, dan pengkajian lebih lanjut. Dalam kehidupan sehari-hari, wawasan terhadap masalah mungkin diperoleh lewat pengaturan kembali bebrapa aspek dari persoalan, elaborasi, dan relaksasi pembatas.
Kontribusi lain dari Psikologi Gestalt adalah pembedaan oleh Wertheimer atas belajar arbitrer (tanpa makna) dan belajar bermakna, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi pemecahan masalah. Di dalamnya mencakup pengidentifikasian masalah untuk menyusun solusi yang memiliki  nilai fungsional, peran penemuan pemecahan masalah yang bermakna dengan panduan, dan menghindari pembatasan pemecahan masalah. Hal-hal yang membatasi itu antara lain adalah kekakuan fungsional, yakni ketidakmampuan untuk melihat elemen-elemen dari masalah dengan cara baru, dan belenggu masalah, yakni kekakuan dalam memecahkan masalah. Perkembangan lainnya adalah aplikasi konsep Gestalt ke formasi kelompok sosial dan motivasi serta konsep belajar laten.

Perbandingan antara Behaviorisme dan Teori Gestalt
Pada pertengahan 1930-an, baik itu behaviorisme maupun Psikologi Gestalt menjadi makin diperluas. Masing-masing perspektif berusaha mengembangkan satu teori komprehensif yang akan menjelaskan semua hal tentang belajar. Kurang dari satu dekade kemudian, konflik antara dua teori itu dikritik karena tidak produktif. Ada dua hal yang menimbulkan masalah ini (McConnell, 1942). Pertama, istilah yang digunakan oleh masing-masing perspektif memperbesar perbedaan di anatara keduanya. Misalnya, istilah “wawasan/pemahaman” dan “koneksi” merepresentasikan deskripsi yang ekstrem dari proses belajar. Kesulitan tugas mungkin merupakan satu faktor dalam proses belajar yang dideskripsikan oleh para teoritis. Jika tugasnya sangat sulit sampai-sampai pemelajar tidak dapat membangun hubungan dengan situasi, maka dia harus menggunakan metode coba-coba (trial-and-error). Sebaliknya, tugas yang kurang sulit, di mana pengalaman masa lalu mungkin ikut berperan, mungkin diselesaikan dengan cepat dan akurat. Karena itu, kilasan pemahaman yang dideskripsikan oleh Psikologi Gestalt mungkin, dalam beberapa kasus, dimasukkan dalam transfer melalui elemen-elemen yang identik (McConnell, 1942, h. 26).
Kedua, muncul deskripsi yang berbeda tentang belajar. Perbedaan ini sebagian muncul dari perbedaan dalam konteks eksperimental (lihat Tabel 2.5). Tugas dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah penemuan yang dibutuhkan untuk menghasilkan respons yang tepat. Akan tetapi, situasi yang tidak terstruktur dan rumit memerlukan pengalaman masa lalu pemelajar dan penemuan pola perilaku yang tepat (McConnell, 1942).

TABEL 2.5
Perbandingan antara Behaviorisme dan Teori Gestalt

Karakteristik Utama
Behaviorisme
Teori Gestalt
Asumsi dasar
Perilaku yang dapat diamati, bukan even sadar atau mental, harus dipelajari; belajar adalah perubahan; hubungan antara stimuli dan respons harus dipelajari,
Individu bereaksi kepada sebuah kesatuan; karena itu, pemelajaran adalah organisasi dan reorganisasi bidang sendoris. Kesatuan tersebut memiliki properti baru yang berbeda dari yang ada pada elemen tersebut.
Eksperimen umum
Trial and error, Tikus menyusuri labirin, binatang keluar dari kandang; respons emosional atau refleks, pemasangan stimulus.
Mengorganisasikan kembali: Subjek ditempatkan dalam situasi yang mensyaratkan restrukturisasi bagi solusi.
Formula belajar
Stimulus – respons – imbalan; respon emosional: stimulus 1 dan stimulus 2 = respon
Konstelasi stimuli – organisasi – reaksi.


Sumber : Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instructiona: Teori dan Aplikasi. Jakarta : Kencana.

Selasa, 10 September 2013

TINJAUAN

Kekuatan manusia untuk mengubah dirinya sendiri, yakni untuk belajar, mungkin merupakan aspek yang paling mengesankan dari diri manusia (Thorndike, 1931).
Belajar adalah proses multisegi yang biasanya dianggap sesuatu yang biasa saja oleh individu sampai mereka mengalami kesulitan saat menghadapi tugas yang kompleks.

Apa Peran Belajar dalam Kehidupan Sehari-hari?
Ada dua peran belajar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu: Pertama, bagi individu studi tentang “belajar” dapat menjelaskan tentang pemerolehan berbagai kemampuan dan keterampilan, tentang strategi untuk menjalankan peran di dunia, serta tentang sikap dan nilai yang memandu tindakan seseorang. Kedua, belajar adalah penting bagi masyarakat. Salah satu tujuannya, seperti yang dicatat oleh Vygotsky (1924/1979), adalah mempelajari tentang nilai, bahasa, dan perkembangan kultur – pengalaman yang diwariskan. Bayangkan, setiap generasi hanya mampu mempelajari hal-hal secara sepotong-sepotong.

Seperti Apa Upaya Prateoritis untuk Menjelaskan tentang Belajar?
      Setiap generasi mencari penjelasan tentang realitas masa saat mereka hidup. Namun, pencarian pemahaman ini terbatas karena masih terbatasnya metode yang ada. Kurangnya alat untuk mempelajari alam dan manusia menyebabkan lahirnya mitos-mitos tentang dewa yang berkuasa yang bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa yang belum bisa dijelaskan dengan akal. Mitos-mitos yang ada seperti dewa laut Poseidon menciptakan badan samudera pelan-pelan digantikan oleh kebijaksanaan tradisional yang didasarkan pada pengalaman dan sistem keyakinan yang terstruktur yang disebut filsafat. Kemudian riset dan teori menjadi metode untuk mencari informasi tentang belajar.
       Masalah dalam kebijakan tradisional adalah informasi dapat ditafsirkan dengan cara yang berbeda-beda. Sebaliknya, meski filsafat merupakan keyakinan yang terstruktur, filsafat yang berbeda mencerminkan pandangan yang berbeda pula. Meski riset dunia fisik dimulai sejak 1500-an, riset terhadap proses psikologis masih ketinggalan. Kejadian-kejadian yang mengawali riset psikologi adalah munculnya konsep empirisme ilmiah dan konsep perubahan dalam kemunculan spesies yang diperkenalkan oleh Darwin. Riset terhadap proses psikologis dimulai di laboratorium Wundt, dan beberapa tahun kemudian diikuti dengan pengumpulan data di-setting pendidikan. Banyak dari data itu ternyata tidak menambah pemahaman tentang praktik pendidikan. Pada saat yang hampir sama, pada 1920-an, teori belajar awal mulai bermunculan untuk memberikan kerangka bagi riset.

Apa Kriteria untuk Teori Belajar?
           Clark Hull (1935), seorang teoritis behavioral, mengidentifikasi tiga kriteria yang penting untuk setiap teori, yaitu: Pertama, seperangkat asumsi yang jelas tentang aspek belajar yang dibahas oleh teori. Kedua, defenisi yang jelas dari istilah penting. Ketiga, prinsip spesifik yang diambil dari asumsi yang dapat diuji melalui riset. Keempat, yang hanya berlaku untuk teori belajar, adalah teori yang harus menjelaskan dinamika psikologis dasar dari kejadian yang memengaruhi belajar.
Peran teori belajar adalah berbeda dari peran filsafat dan model pengajaran. Filsafat merepresantasikan sistem nilai umum dan membahas term yang abstrak dan luas, seperti hakikat alam dan pengetahuan. Model pengajaran mendeskripsikan lingkungan belajar tertentu, seperti belajar kooperatif dan instruksi langsung. Sebaliknya, teori belajar fokus pada pedoman pengembangan belajar.

Apa Fungsi Teori Belajar?
Teori yang baik harus memenuhi fungsi umum dan khusus yang berkaitan dengan belajar dan pembelajaran.
·        Fungsi Umum
       Suppes (1974) mengidentifikasi lima fungsi umum dari teori. Pertama, sebagai kerangka untuk melakukan riset. Kedua, memberikan kerangka penataan informasi yang spesifik. Ketiga, untuk mengungkapkan kompleksitas dan kekaburan suatu kejadian. Keempat, teori mungkin melahirkan wawasan baru tentang situasi sehingga prinsip atau teori sebelumnya perlu diperbaiki. Kelima, teori berguna sebagai penjelasan atas suatu kejadian.

·        Fungsi Khusus
      Teori belajar yang baik memenuhi beberapa fungsi. Selain sebagai kerangka riset, teori harus memberikan pemahaman baru tentang situasi, dan berfungsi sebagai penjelasan kerja atas kejadian-kejadian. Ada empat fungsi khusus. Pertama, sebagai pedoman perencanaan instruksi. Kedua, mengevaluasi produk untuk dipakai di kelas dan praktik belajar yang berlangsung. Ketiga, mendiagnosa masalah dalam instruksi di kelas. Keempat, mengevaluasi riset berdasarkan teori.

Bagaimana Kejadian Memengaruhi Perkembangan Teori Belajar?
            Perkembangan teori belajar dimulai pada abad ke-20 dengan tiga pendekatan berbasis laboratorium. Pendekatan itu membuka jalan baru karena para teoritisi menguji prinsip dasarnya dengan eksperimen. Kemudian masuknya Amerika Serikat dalam Perang Dunia II menimbulkan isu pelatihan untuk operasi militer yang kompleks. Prioritas ini, bersama dengan kurikulum pasca-Sputnik, memerlukan pemecahan isu pelajaran di kelas yang menjadu prioritas untuk teori belajar.
            Perhatian pada aktivitas mental mulai mengemuka karena ada tiga kejadian: riset komunikasi di awal Perang Dunia II, perkembangan komputer berkecepatan tinggi, dan penjelasan “rule-following” Chomsku tentang pemrosesan bahasa. Kapabilitas komputer dalam mengolah, mengubah, dan menyimpan informasi menjadi basis untuk teori pemrosesan informasi. Bruner dan yang lainnya menunjukkan bahwa penekanan teori itu telah mengabaikan soal bagaimana pemelajar mengonstruksi makna dan memahami dunianya.
            Setalah riset kognisi mulai mendapat banyak perhatian, beberapa pihak mendeskripsikan periode ini sebagai revolusi kognitif. Namun, fokus pada kognitif ini tidak menghasilkan solusi baru untuk persoalan yang ada, dan masalah yang dihadapi dalam behaviorisme tidak menyebabkan ditinggalkannya prinsip teori behavioral, dan masalah itu bukan merupakan pencetus teori kognitif. Dengan kata lain, psikologi mungkin dideskripsikan sebagai serangkaian tradisi riset yang berbeda, bukan revolusi.
            Teori-teori belajar dan teori perkembangan kognitif Piaget adalah teori universal. Artinya, mereka mengidentifikasi peristiwa-peristiwa esensial dari belajar atau perkembangan kognitif yang berlaku universal – dalam setiap setting belajar dan pada setiap siswa. Pada akhir abad 20-an, muncul perhatian pada faktor personal dan sosial. Di antaranya adalah atribusi siswa pada kesuksesan dan kegagalan, kecakapan diri dan orientasi tujuan dari kelas dan siswa.

Apa itu Filsafat yang Disebut Kontruktivisme?
            Pendapat konstruktivis mengenai sifat pengetahuan banyak mereduksi atau mengesampingkan peran realitas eksternal dalam produksi pengetahuan. Pendapat konstruktivis sosial radikal mengatakan bahwa pengetahuan sepenuhnya adalah produk dari proses sosial. Objek-objek adalah artefak sosial dan teori ilmiah hanya merefleksikan milieu sosial tempat di mana teori muncul. Salah satu perspektif konstruktivis sosial radikal berpendapat bahwa tugas menjelskan dunia adalah proses linguistik, bukan proses kognitif.
           Masalah utama dalam konstruktivisme sosial radikal yang dikemukakan oleh sebagian sarjana adalah: (a) kesimpulan tidak logis bahwa ilmuwan akan mengembangkan teori yang berbeda jika mereka hidup di masyarakat yang berbeda; (b) penalaran logis dan bukti ilmiah/fisik bukan kriteria untuk menerima suatu teori.
           Implikasi bagi ilmu pendidikan adalah: (a) jika pengetahuan adalah produk dari konvensi sosial, maka pendidikan hanya perlu memastikan bahwa ide-ide akan sesuai dengan kepentingan yang kuasa; (b) pengembangan kemampuan kritis siswa tidak diperlukan jika tidak ada basis untuk menilai teori sebagai salah atau tidak masuk akal.

Apa itu Konstruktivisme Edukasional?
            Faktor-faktor yang memberi kontribusi pada kemunculan konstruktivisme dalam pendidikan adalah: (a) “oversalling” komputer sebagai metafora untuk belajar; (b) transmisi model belajar; (c) keprihatinan bahwa siswa mendapatkan keterampilan dalam lingkungan yang terisolasi dan tidak kontekstual, sehingga tidak mampu mengaplikasikan ilmunya untuk situasi dunia nyata; (d) minat pada teori kultural-historis Vygotsky. Ada tiga tipe konstruktivisme edukasional. Konstruktivisme pribadi atau individual: (a) memandang semua pengetahuan sebagai konstruksi manusia; (b) individu menciptakan pengetahuan dan mengonstruksi konsep; (c) sudut pandang hanya bisa dinilai secara parsial berdasarkan korespondensinya dengan norma yang diterima umum. Konstruktivisme sosial percaya bahwa pengetahuan adalah transaksional, dikonstruksi secara sosial, dan didistribusikan ke sesama partisipan. Konstruktivisme afilosofis, tidak menggunakan asumsi tentang sifat pengetahuan. Ruang kelas mungkin bisa dianggap tempat belajar berorientasi pada siswa, mengimplementasikan pendekatan holistik untuk literasi atau fokus pada cara pembaca dan penulis menyusun makna.


Sumber : Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instructiona: Teori dan Aplikasi. Jakarta : Kencana.