Selasa, 17 Desember 2013

PERSPEKTIF KOGNITIF: II. METAKOGNISI DAN PEMECAHAN MASALAH



Rekonseptualisasi tentang pemikiran dan belajar yang muncul menunjukkan bahwa menjadi seseorang pemikir yang baik dalam ranah apa saja boleh jadi merupakan persoalan bagaimana mendapatkan kebiasaan dan disposisi interpretasi dan memahami serta bagaimana mendapatkan seperangkat keterampilan. (Resnick. 1998).
Secara umum metakognisi dapat dikatakan sebagai berpikir tentang pemikiran. Beberapa perspektif menekankan bahwa pengetahuan individual tentang kognisi dan penggunaan strategi. Yang lainnya menekankan baik itu pengetahuan maupun pengaturan kognisi (Brown, 1987; Son & Schwartz, 2003).
Komponen utama dari metakognisi adalah: (a) pengetahuan dan kesadaran tentang pemikiran diri sendiri, dan (b) pengetahuan tentang kapan dan di mana mesti menggunakan strategi yang diperoleh. Pengetahuan tentang pemikiran seseorang mencakup informasi tentang kapasitas dan keterbatasan dirinya sendiri dan kesadaran akan kesulitan selama belajar sehingga dapat dilakukan perbaikan.
Sebuah model aktivitas metakognitif dalam belajar terdiri dari empat tahap. Mereka adalah pendefinisian tugas, penentuan tujuan dan perencanaan, melakukan taktik dan strategi studi, dan mengadaptasi studi. Jika tugas studi itu sama, tahapannya bisa dilompati. Tahapan dalam model aktivitas metakognisi dalam studi, yaitu: (1) Mendefinisikan tugas, memunculkan persepsi tentang sifat dari tugas belajar, sumber daya yang tersedia, dan batasan; (2) Menentukan tujuan dan perencanaan, memilih atau membuat tujuan dan rencana untuk menangani tugas belajar; (3) Melakukan taktik dan strategi belajar, mengimplementasikan aktivitas yang dipilih di tahap dua dan menyesuaikan jika perlu. Melakukan penyesuaian skala besar pada tugas, tujuan, rencana, dan keterlibatan atau mengubah kondisi untuk belajar di masa depan (pengetahuan, keterampilan, keyakinan, disposisi, dan faktor motivasi).
Masing-masing tahap menghasilkan suatu produk yang dievaluasi pemelajar (aktivitas metakognisi) dan memutakhirkan kondisi tindakan untuk tahap selanjutnya. Persepsi siswa terhadap tugas belajar, misalnya, adalah basis untuk penentuan tujuan di tahap kedua. Standar personal siswa juga memengaruhi tindakan di setiap tahap. Dalam tahap ketiga, umpan balik internal dihasilkan oleh monitoring pelaksanaan strategi belajar akan menimbulkan penyesuaian. Tetapi, jika siswa menganggap tidak ada lagi tatik untuk mencapai tujuan, maka tugas itu mungkin diabaikan. Tahap keempat, aktivitas metakognitif yang luas, tidak mengacu pada strategi penyesuaian berkelanjutan.


Sumber : Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instructiona: Teori dan Aplikasi. Jakarta : Kencana.

Selasa, 10 Desember 2013

LAPORAN OBSERVASI SMK TRITECH INFORMATIKA

Kelompok 10

Riri Amaliah        101301003
Dhita Sundari      101301009
Tika Ramadhani   101301018
Indah Kartika       101301108
Efrianty Shaila      101301119



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG SEKOLAH
a.      Profil Sekolah
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ini bernama SMK Tritech Informatika Medan dengan nomor pokok sekolah nasional 10261412. SMK Tritech Informatika berada di Jln. Bhayangkara No. 522 CDE, Indra Kasih, Medan Tembung, Sumatera utara. Sekolah Menengah Kejuruan Tritech berstatus sekolah swasta yang ditetapkan pada tanggal 06 Agustus 2010 dengan nomor surat izin 420/10985/PPMP/09.
Penyelanggara sekolah ini adalah Yayasan Pendidikan Triadi Teknologi. Website dan email sekolah ini adalah http://www.tritech.sch.id dan smktritech@gmail.com. Telepon/ Faximile 061-6635991/ 061-6641576. Bidang keahlian SMK ini adalah teknik informasi dan komunikasi. Kompetensi keahlian SMK ini adalah TKJ, Multimedia, dan RPL.
b.      Sejarah Singkat Sekolah
Berawal dari niat suci Yayasan Bapak Zulkifli, SE, S.Sos untuk beribadah kepada Allah SWT dan pengabdian dirinya bagi dunia pendidikan. SMK Tritech Informatika berdiri diawali dengan dibukanya Lembaga Kursus Komputer dan Bahasa Inggris yang diberi nama Tritech Quantum. Seiring dengan perkembangan dan tuntutan dari masyarakat maka pada tanggal 20 Mei  2010 didirikanlah SMK Tritech Informatika dengan memakai konsep SMK IT Modern.
SMK Tritech Informatika memiliki 3 Program Keahlian, yaitu Teknik Keterampilan Jaringan, Multimedia, Rekayasa Perangkat Lunak yang bertempat di Jl. Bhayangkara No. 522 Medan dan diasuh oleh Guru dan Dosen berpengalaman tamatan S1 dan S2 dari Universitas Negeri dan Swasta yang terakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional. Pada saat ini SMK Tritech Informatika mengasuh 1000 siswa/i, dengan jumlah pendidik sebanyak 80 orang dan tahun ajaran  2012/2013 telah menempati gedung baru di Jl. Bhayangkara No. 484 dengan jumlah kelas sebanyak 36 ruang. Guna pengembangan selanjutnya pada tahun 2013 akan dibuka STMIK dan PLSM, hal ini dilakukan dalam rangka memenuhi keinginan masyarakat dan membantu program pemerintah dalam bidang pendidikan.
c.       Visi dan Misi Sekolah
-        Visi
Menjadikan SMK berbasis teknologi Informatika yang Unggul, Mandiri, Religius dan Berstandar Internasional.
-        Misi
Siswa/i mampu menguasai komputer software dan hardware serta  jaringan IT. Melahirkan generasi yang handal dalam bidang IPTEK, IMTAQ dan berjiwa kebangsaan.
B.     DATA OBSERVER
Observer yang mengamati proses belajar mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tritech Informatika Kelas X TKJ 2, yaitu:
a.      Nama   : Riri Amalia
                        NIM    : 101301003
b.      Nama   : Dita Sundari
                        NIM    : 101301009
c.       Nama   : Tika Ramadhani
                         NIM    : 101301018
d.      Nama   : Indah Kartika
                        NIM    : 101301108
e.      Nama   : Efrianty Shaila (Tidak Hadir)
                        NIM    : 101301119
C.    KONDISI FISIK KELAS
Ukuran ruangan kelas sekitar 8 x 6 m. Di dalam kelas terdapat 26 bangku cheetos, 1 kursi guru, dan meja guru. Selain itu, terdapat kipas angin, AC, televisi, whiteboard yang dilapisi kaca, spidol, proyektor, tong sampah, dan CCTV.
D.    HASIL OBSERVASI
Kelompok melakukan observasi di kelas X TKJ 2, pada tanggal 18 November 2013 pukul 08.15 – 09.15 WIB. Jumlah siswa di kelas X TKJ 2 ialah 26 orang, yang terdiri dari 19 laki-laki dan 7 perempuan. Berdasarkan hasil observasi, media pembelajaran yang digunakan oleh guru ialah papan tulis dan spidol. Sedangkan media pembelajaran yang digunakan oleh siswa ialah buku dan pena. Guru meminta siswa untuk mencatat, kemudian mengulang dan menanyakan kembali materi yang telah di jelaskan. . Dalam proses belajar mengajar guru menggunakan kata ‘kau’ untuk memanggil siswa.

BAB II
TEORI DAN PEMBAHASAN
A.    TEORI
·         Kondisi Belajar Robert Gagne
Gagne  mengungkapkan lima variasi belajar yang memenuhi kriteria, yaitu informasi verbal, keterampilan intelektual, keterampilan motorik, sikap dan strategi kognitif (Gagne, 1972, 1977a, 1985 dalam Gredler, 20110. Gagne (1977, 1985 dalam Gredler, 2011) mengidentifikasi keadaan internal dan proses yang penting dalam mencapai masing-masing tipe belajar tersebut. Keadaan itu adalah kondisi belajar internal. Akan tetapi, yang juga penting adalah situmulus dari lingkungan yang berinteraksi dengan pemrosesan internal pelajar. Dukungan lingkungan ini ialah kondisi belajar internal.
-        Komponen esensial dalam belajar dan pembelajaran
Kondisi belajar internal : Keadaan internal pelajar dan proses kognitif --> Berinteraksi dengan --> Stimuli dari lingkungan (Kegiatan instruksi) : Kondisi Belajar eksternal

Hasil Belajar : Informasi Verbal, Keterampilan Intelektual, Keterampilan Motorik, Sikap, Strategi Kognitif

Dari bagan di atas dapat dilihat bahwa kegiatan pembelajaran (kondisi belajar eksternal) berinteraksi dengan kondisi internal untuk melahirkan pencapaian tipe kapabilitas tertentu. Keadaan internal tersebut meliputi keadaan internal pelajar dan proses kognitif pelajar tersebut. Dan keadaan eksternal merupakan stimuli dari lingkungan yang mencakup kondisi belajar dan kegiatan instruksi.
·         Mengembangkan Strategi Kelas
Menurut pendekatan sistem, perancangan pelajaran di kelas adalah salah satu komponen dari proses keseluruhan yang mencakup baik itu kurikulum maupun pembelajaran.
-        Model Perancangan Sistem
Model sistem untuk merancang pembelajaran dicirikan oleh tiga ciri utama. Pertama, pembelajaran dirancang untuk tujuan dan sasaran spesifik. Kedua, pengembangan pembelajaran menggunakan media dan teknologi pembelajaran lain. Ketiga, uji coba, revisi material, dan pengujian lapangan atas material yang merupakan bagian integral dari proses perancangan. Dengan kata lain, model sistem menspesifikasikan tujuan, rancangan pembelajaran, dan uji coba material pada siswa, revisi pembelajaran sampai prestasi yang diharapkan tercapai.
-        Peran Media dalam Pembelajaran
Istilah “ media “ biasanya membuat kita berpikir tentang pembelajaran yang dibantu komputer, televisi pembelajaran, rekaman video, dan CD/DVD, dan sistem penyampaian mekanis lainnya. Namun, media pembelajaran juga mencakup guru, teks tertulis, dan objek riil-ringkasnya setiap sarana fisik yang mengkomunikasikan pesan pembelajaran (Gagne & Briggs, 1979; Reiser & Gagne, 1983 dalam Gredler, 2011). Model pemilihan media yang dikembangkan oleh Raiser dan Gagne (1983) mengemukakan bahwa pertama kita akan mengidentifikasi serangkaian pilihan yang tepat dan kemudian mempersempit pilihan itu menjadi satu atau dua saja. Kemudia Me-review pilihan untuk menilai kemampuan dalam menyediakan kegiatan pembelajaran. Pilihan terakhir didasarkan pada faktor praktis. Model seleksi media berguna untuk mengembangkan pemikiran seseorang tentang berbagai macam media untuk pembelajaran.
·         Komponen Pembelajaran Albert Bandura
Dalam teori kognitif-sosial, komponen ensensial dari belajar adalah model kelakukan, penguatan pada model, dan pemrosesan kognitif pemelajar terhadap pemodelan perilaku. Oleh karena itu, komponen pembelajaran adalah (a) mengidentifikasi model yang patut di kelas, (b) menentukan nilai fungsional dari perilaku dan, (c) memandu pemrosesan internal pemelajar yang mencakup membantu pelajar memahami ketangguhan dirinya.
·         Konteks Sosial untuk Belajar Albert Bandura
Teori kognitif-sosial membahas isu belajar dalam latar naturalistik. Teori ini mendeskripsikan secara spesifik bahwa mekanisme yang digunakan individu untuk saling belajar satu sama lain selama menjalani kehidupan sehari-hari. Observasi atas berbagai model dan penguatan yang diberikan ke kawan dan orang lain merupakan hal yang sangat memengaruhi belajar.
B.     PEMBAHASAN
·         Kondisi Belajar Robert Gagne
Gagne mengemukakan bahwa kondisi internal dan proses merupakan hal yang penting untuk mencapai tipe belajar. Kondisi internal ini meliputi keadaan internal dan proses kognitif dalam diri pelajar. Namun, dalam mencapai hasil belajar kondisi internal tersebut berinteraksi dengan kondisi eksternal yaitu stimulus dari lingkungan yang meliputi kondisi belajar eksternal dan kegiatan instruksi.
Menurut kelompok, keadaan ruang kelas, fasilitas kelas, dan guru merupakan kondisi eksternal yang berpengaruh pada hasil belajar. Jika melihat ruang kelas X TKJ 2, ruangan kelas tersebut cukup nyaman dengan fasilitas yang sangat mendukung. Ruangan yang bersih ditambah lagi adanya kipas angin dan AC yang membuat suhu di dalam kelas tidak gerah. Selain itu, jumlah siswa yang berjumlah 26 membuat kelas tidak terlalu ramai dan cukup kondusif. Media pembelajaran seperti TV, proyektor juga sangat mendukung proses belajar mengajar. Jadi, menurut kelompok kondisi eksternal dari kelas X TKJ 2 yang meliputi ruangan kelas dan media pembelajaran sangat mendukung terjadinya proses belajar mengajar yang efektif.
Guru diberikan media yang cukup lengkap untuk mengajar seperti whiteboard, TV, dan juga proyektor. Selain itu, siswa juga di izinkan untuk menggunakan laptop. Namun, guru juga harus mampu memilih media apa yang digunakan untuk mengajar. Media yang ia gunakan harus sejalan dengan materi yang ingin di sampaikan. Ketika kelompok melakukan observasi, kelas X TKJ 2 sedang belajar biologi. Guru menggunakan media papan tulis dengan menggambarkan skema klasifikasi tumbuhan. Guru mengatakan bahwa sebenarnya siswa di perkenankan menggunakan laptop, hanya saja ketika materi yang disampaikan mengenai klasifikasi tersebut tidak perlu menggunakan laptop maka guru hanya menggunakan papan tulis sebagai media. Dan kemudian ia meminta siswa untuk mencatat kembali apa yang telah dituliskan di papan tulis. Pemilihan media apa yang digunakan saat mengajar juga penting. Salah satu faktor yang mempengaruhi ialah waktu. Seperti yang dikatakan oleh guru tersebut bahwa waktu untuk satu les mata pelajaran sekitar 45 menit. Jadi, dengan waktu yang singkat guru harus mampu menyampaikan materi. Ketika materi yang seharusnya dijelaskan dengan rinci tetapi hanya digantikan dengan menonton film atau video mungkin hanya dapat menyajikan materi tetapi tidak ada kesempat untuk melakukan tanya jawab. Jadi, media yang dipilih oleh guru dengan hanya menggunakan media papan tulis menurut kelompok cukup tepat. Karena, setelah menjelaskan guru masih bisa melakukan tanya jawab dan memberikan soal. Jadi, menurut kelompok media papan tulis yang digunakan guru untuk mengajar biologi tersebut merupakan pilihan yang tepat.
Model perancangan sistem
Model sistem untuk merancang pembelajaran dicirikan oleh tiga ciri utama. Pertama, pembelajaran dirancang untuk tujuan dan sasaran spesifik. Tentunya, setiap guru mata pelajaran sudah menyiapkan RPP (Rancangan Program Pembelajaran), dimana di dalam RPP sudah terangkum dengan jelas standar kompetensi yang akan dicapai dan metode apa yang digunakan untuk mencapainya.  Kedua, pengembangan pembelajaran menggunakan media dan teknologi pembelajaran lain. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan kelompok, diketahui bahwa guru menggunakan media papan tulis dalam mengajar biologi. Selain itu, juga tersedia media lain seperti proyektor dan TV yang tentu mendukung dalam proses pengmbangan pembelajaran. Ketiga, uji coba, revisi material, dan pengujian lapangan atas material yang merupakan bagian integral dari proses perancangan. Guru di kelas X TKJ 2, setelah ia menjelaskan materi ia meminta siswa/I untuk menjelaskan kembali dengan memberikan pertanyaan. Dan ketika siswa/I memberikan jawaban yang kurang tepat guru juga merevisi jawaban tersebut. Kemudian, guru meminta siswa untuk menyelesaikan soal yang diberikan, hanya saja waktunya tidak cukup sehingga guru tidak bisa memeriksa jawaban siswa/I sehingga menjadikan soal-soal tersebut sebagai tugas.
·      Komponen Pembelajaran Albert Bandura
Ada tiga komponen pembelajaran, yaitu: Pertama, mengidentifikasi model yang patut di kelas. Dalam komponen ini dikatakan bahwa baik itu guru maupun siswa dapat berfungsi sebagai model hidup untuk berbagai macam perilaku akademik maupun perilaku sosial. Di kelas X SMK Tritech Informatika dapat dilihat hasil observasi bahwa guru menggunakan kata “kau” dalam mengajar. Walaupun bagi remaja pengaruh model teman sebaya lebih besar namun guru bertanggung jawab atas kelas dan berperan penting sebagai model tanggung jawab. Sehingga, hal ini perlu diperhatikan bagi seorang guru dalam memilih kata-kata yang akan digunakan saat mengajar. Selain itu, siswa juga kurang kondusif saat belajar. Hal ini dapat menyebabkan siswa lain terganggu dalam belajar. Sehingga seorang guru harus memperhatikan hal ini juga dikarenakan seorang guru bertanggung jawab atas kelasnya.
Kedua, menentukan nilai fungsional dari perilaku. Menurut teori kogniti-sosial, seseorang memperhatikan kejadian di lingkungan yang memprediksi penguatan (Bandura, 1977). Menciptakan nilai fungsional dari perilaku sosial juga penting dalam kelas. Penguatan terhadap model teman sebaya untuk mengerjakan tugas dengan tenang, bersikap tertib saat hendak istirahat, dsb, dapat memengaruhi adopsi perilaku teman sekelas. Siswa kurang kondusif dalam belajar. Tidak semua siswa kurang kondusif dalam belajar, sehingga, guru dapat memberi penguat kepada siswa yang mengerjakan tugas dengan tenang. Supaya siswa yang kurang kondusif dapat sedikit tenang setelah melihat siswa yang kondusif saat belajar diberikan penguatan.
Ketiga, memandu pemrosesan internal. Ada beberapa bagian yang termasuk kedalam membimbing pemrosesan internal pemelajar yang mencakup membantu pelajar memahami ketangguhan dirinya. Salah satunya adalah memfasilitasi ketangguhan pemelajar. Ketangguhan diri di kelas dapat diperkuat dengan mengamati kesuksesan teman yang kompetensinya dianggap sama. Berdasarkan teori ini, tidak ada hasil observasi yang tepat berkaitan. Namun jika dilihat lagi, siswa yang kurang kondusif dapat kondusif jika ia mengamati kesuksesan temannya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya seorang guru memberikan penguatan kepada siswa yang kondusif. Dengan begitu siswa yang kurang kondusif bisa melihat kesusksesan siswa lain dalam belajar.
·         Konteks Sosial untuk Belajar Albert Bandura
Observasi yang dilakukan siswa dapat memengaruhi belajar. Saat siswa yang kurang kondusif tetap dibiarkan saja mereka berisik maka siswa lain yang mengamati bisa ikut berisik juga. Apalagi guru tidak merespon siswa-siswa yang berisik tersebut. Bisa saja membuat siswa lain merasa berisik bukanlah masalah. Sehingga siswa yang kurang kondusif bertambah.

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
·         Kesimpulan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bernama SMK Tritech Informatika memiliki 3 Program Keahlian, yaitu Teknik Keterampilan Jaringan dan Multimedia. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bernama SMK Tritech Informatika memiliki 3 Program Keahlian, yaitu Teknik Keterampilan Jaringan Multimedia. SMK Ttitech Informatika juga telah memiliki visi dan misi yang sudah mulai dikembangkan lebih baik lagi. Bahan pembelajaran yang digunakan khususnya SMK Tritech dilihat dari banyaknya bahan pembelajaran yang dapat membantu siswanya mengenal akan dunia sosial yang menjadi pusat perhatian dunia sekarang ini. Fasilitas di setiap ruangan yang ada di sekolah ini memiliki tujuan sebagai media belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar. Fasilitas yang digunakan juga dapat membantu siswa dan siswi untuk memahami kemajuan tekhnologi yang sedang berkembang di masa sekarang. Konteks sosial yang ada pada lingkungan sekolah baik karena adanya kerja sama antara pengajar dan pelajar dalam mencapai tujuan sekolah sehingga tidak adanya jarak antara guru dan siswa dalam kelas selama proses belajar mengajar. Perlunya kerja sama juga menimbulkan tanggung jawab bersama untuk menjadikan Suasana dalam proses belajar menjadi efektif dan berjalan sebagaimana mestinya.
·         Saran
1.      Sebaiknya fasilitas yang sudah ada difungsikan dengan baik lagi.
2.      Sebaiknya pengajar memperhatikan interaksinya terhadap pelajar agar terjalin komunikasi yang baik.
3.      Design kelas harus lebih diperhatikan agar terlihat jelas dan tidak sempit.
4.      Pengajar dapat mengkontrol suasana kelas agar tetap tenang ketika saat proses belajar sedang berlangsung.
5.      perlunya buku tambahan yang digunakan untuk proses belajar.

DAFTAR PUSTAKA
Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instruction : Teori dan Aplikasi Edisi Keenam. Jakarta : Kencana
Profil SMK Tritech Informatika. http://www.tritech.sch.id/index.php, diakses 30 November 2013.


Lampiran