Minggu, 13 April 2014

Laporan Hasil Wawancara Terhadap Guru



BAB I
PENDAHULUAN

Saya mewawancarai seorang guru les private yang bernama PAR. Beliau mengajar sejak dibangku SMA kelas 3. Saat itu beliau hanya membantu tantenya yang seorang guru SD untuk mengajar les private, karena tantenya kekurangan tenaga dalam mengajar les private. Hal itu menjadi awal beliau menjadi pengajar atau seorang guru. Selain kekurangan tenaga, tantenya juga sibuk menangangi hal lain sehingga membutuhkan bantuan dalam mengajar les private.
Setelah beberapa lama mengajar dan didampingi oleh tantennya, beliau dilepas sendiri untuk mengajar murid les private tantenya. Karena satu dan lain hal, beliau tidak bisa datang ke rumah tantenya untuk mengajar les private. Sehingga, murid-murid tantenya diminta untuk datang ke rumah PAR. Jadwal mengajar les private beliau setiap hari Senin sampai Jum’at pukul 19.00-21.00 WIB. Murid-murid les private datang sekitar pukul 19.00 WIB dan diminta untuk bermain terlebih dahulu dan mulai belajar pada pukul 19.30 WIB.
Beliau mengajar murid Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Beliau mengajar semua pelajaran di SD dan juga di SMP. Jumlah murid les private beliau pada awal mengajar sekitar 15 orang. Namun dikarenakan beliau sudah masuk kuliah, jumlah murid yang beliau ajarkan berkurang sedikit demi sedikit. Dan ketika sekarang beliau sudah kerja, murid beliau hanya berjumlah 7 orang dengan 1 tutor tambahan.

BAB II
HASIL WAWANCARA

Berikut ini adalah identitas guru les private SD & SMA, yakni:
Nama                           : P.A.R
Usia                             : 26 Tahun
Lama Mengajar           : 6-7 Tahun

Laporan hasil wawancara
Beliau bernama PAR yang berusia 26 tahun yang sudah mengajar sejak duduk di bangku SMA sampai sekarang sebagai guru les private. Pandangan beliau tentang pendidikan adalah pendidikan itu sangat penting. Dari semenjak seorang anak itu lahir bahkan ketika masih dalam kandungan. Didalam kandungan juga seorang anak kalau bisa sudah menerima pendidikan tentang nilai-nilai positif agar ketika dewasa berkembang menjadi manusia yang cerdas dan tentunya berdampak pada kemajuan positif di negara kita. Karena yang akan memimpin negara ke depan adalah anak-anak yang tumbuh saat sekarang ini. Sehingga penting untuk membekali mereka dengan pendidikan yang positif.
Motivasi yang mendasari beliau untuk mengajar adalah pada waktu SMA dahulu, ingin mengajar karena disuruh bantu tante untuk mengajar murid private-nya. Selain itu beliau mendapat tambahan uang saku dari membantu tantenya. Namun kalau sekarang, motivasi yang mendasari beliau adalah untuk mengembangkan skill, dapat membuat lapangan kerja, mengusahakan anak yang tidak minat belajar menjadi punya minat untuk belajar, mengusahakan anak yang punya IQ di bawah rata-rata tetap bisa optimal dalam menjaga minat belajar dan hasil belajarnya.
Sudut pandang beliau dalam melihat peserta didik yaitu setiap anak itu unik, punya karakter yang berbeda-beda. Sehingga perlakuan yang diberikan sebagai pengajar juga harus berbeda-beda ke setiap anak. Hal ini yang membuat beliau lebih suka mengajar semi private yang muridnya hanya berjumlah 3-5 orang/kelompok. Sehingga beliau bisa lebih mengenal karakter murid-muridnya dan bisa memberi perlakuan dan metode belajar yang tepat ke murid-muridnya.
Pada dasarnya tidak ada anak yang  bodoh, yang ada hanya anak itu belum mendapat guru yang tepat dan belum mendapat metode yang tepat untuk dirinya. Masalah anak yang malas belajar, tinggal diberikan stimulasi yang berupa reward dan lingkungan yang mmbuat anak semangat dalam belajar.
Filosofi beliau dalam mengajar yaitu mengajar itu adalah seni dalam mendidik. Mencoba menyelami dunia dan pemikiran anak sehingga bisa menemukan mutiara yang tersembunyi dikedalaman dunia si anak.
Pendekatan yang beliau gunakan dalam mengajar adalah tegas namun bukan keras dan tidak memaksa anak harus bisa. Tegas dalam arti tidak ada tawar menawar. Mengusahakan anak itu dalam kondisi yang nyaman/tdk tegang, tetap menggunakan suara yang rendah (tidak emosi) meski anak bertindak negatif. Bahkan ketika memberi ketegasan, berusaha untuk tidak marah. Pendekatan selanjutnya adalah ke masalah pengajaran, lebih kepada pendekatan individu. Mengusahakan bagaimana anak bisa memahami materi. Dalam pendekatan yang digunakannya, beliau terkadang menggunakan alat bantu teknologi kalau muridnya susah menangkap pelajar. Jadi beliau menggunakan pendektakan audiovisual.

BAB III
PEMBAHASAN

Mengajar merupakan seni dan ilmu mentransformasikan bahan ajar kepada peserta didik pada situasi dan dengan menggunakan media tertentu. Pembelajaran selalu melibatkan hubungan antara pikiran seseorang atau sekelompok orang dan pikiran seseorang atau sekelompok orang lainnya. Elliot Eisner berpendapat bahwa guru menampilkan diri jauh lebih seperti seniman daripada ilmuwan. Pengajaran melibatkan penilaian kompleks yang terbentang sepanjang pengajaran itu sendiri. Guru harus mampu melakukan dan menangani proses kreatif secara tidak terduga.
Seperti yang dilakukan guru private PAR bahwa ia mengatakan bahwa mengajar adalah seni. Dan ia mencoba mentransferkan ilmu yang dimilikinya kepada peserta didiknya. Ia melibatkan murid-muridnya dalam belajar. Ia mencoba menyelami pemikiran peserta didiknya sehingga ia bisa menemukan mutiara didalam peserta didiknya. Hal ini sama seperti yang dikemukakan oleh Elliot Eisner bahwa guru itu adalah seniman, dimana guru harus kreatif dalam mengajar. PAR mengatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh, hanya saja anak belum menemukan cara belajar yang tepat sehingga beliau mengajar ke setiap anak dengan cara berbeda dan melakukan pendekatan individu. Sehingga, beliau kreatif dalam mengajar.
Guru yang cerdas atau jenius pada intinya mencerminkan keterpelajaran, integritas pribadi, dan kemampuan komunikasi dengan siswa. Keterpelajaran yang dimaksudkan adalah secara konsisten taat asas pada etika pengetahuan dan norma-norma kebiasaan berpikir. Seorang guru yang efektif menginspirasi dan memprovokasi dengan baik murid-muridnya. Memegang kaidah-kaidah berpikir vertikal, tanpa membangun alternatif.
Seperti yang dilakukan oleh PAR bahwa beliau konsisten pada etika pengetahuan dan kebiasaan berpikir. Hal ini ditunjukkan ketika beliau mengatakan bahwa dalam mengajar ia harus tegas sehingga anak bisa fokus pada pelajaran. Dan ia menggunakan metode yang berbeda ke setiap anak sehingga anak lebih memahami pelajaran. Beliau menggunakan metode tersebut supaya beliau bisa menginsprirasi dan memprovokasi anak untuk belajar dan mempertahankan hasil belajarnya, hal ini juga bisa diterapkan pada anak yang malas belajar
Sedangkan integritas pribadi berupa kelengkapan atau kesatuan karakter, rasa percaya diri, dan identitas pribadi yang menunjukkan diri sebagai guru yang hebat. Guru yang berintegritas mampu menunjukkan kepercayaan diri secara benar, belajar mengendalikan ambiguisitas, serta membebaskan diri dari tekanan dan pembatasan hidup, serta berkemampuan mengendalikan siswa.
Selain itu dilihat dari segi integritas, beliau mampu menunjukkan kepercayaan diri, belajar mengendalikan ambiguisitas, serta membebaskan diri dari tekanan dan pembatasan hidup, serta berkemampuan mengendalikan anak. Hal ini terlihat ketika beliau mengajar dengan tegas dan mencoba membuat muridnya santai dan nyaman namun tetap fokus. Ia mencoba untuk mengendalikan muridnya dengan membuat suasana nyaman.
Sedangkan kemampuan berkomunikasi dengan siswa merupakan karakteristik dasar dari seorang guru. Berkomunikasi dengan orang muda harus mampu menikmati antusiasme di tengah-tengah suasana yang berisik dan intens bagi mereka untuk tumbuh dewasa. Hal ini berarti bahwa seorang guru harus memiliki kemampuan berempati, melihat situasi siswa ke dalam situasi dirinya dan menjadi pendengar yang kompulsif. Guru yang jenius tidak mengejek atau meremehkan siswa dan anak muda.
Kemudian kemampuan komunikasi dengan murid, seorang guru harus memiliki kemampuan berempati, melihat situasi siswa ke dalam situasi dirinya dan menjadi pendengar yang kompulsif. Guru yang jenius tidak mengejek atau meremehkan siswa. Hal ini dapat terlihat ketika beliau mengatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh, dan beliau mencoba untuk membantu muridnya yang punya IQ di bawah rata-rata untuk tetap bisa optimal dalam menjaga minat belajar dan hasil belajarnya. Metode mengajar yang berbeda pada setiap anak yang ia lakukan membantunya dalam berkomunikasi dengan muridnya dan hal itu membuat si anak untuk bisa menjaga minat belajarnya.
Selain itu, beliau menggunakan paedagogi modern dalam mengajar. Hal ini dapat dilihat bahwa beliau dalam menyampaikan materi/pelajaran dengan cara yang fleksibel ke setiap anak. Bagi muridnya yang susah menangkap, beliau menggunakan alat bantu teknologi agar murid tersebut dapat memahami materi/pelajaran. Ia juga menggunakan metode mengajar yang berbeda kepada setiap muridnya. Dengan pendekatan individu yang digunakan beliau, membuat proses belajar mengajar menjadi baik. Karena, murid memahami pelajaran yang diberikan, membuat murid untuk meningkatkan pengetahuannya, hubungan antara guru dan murid terjalin dengan baik sehingga memudahkan proses belajar mengajar.

BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik, yaitu:
  • Mengajar adalah sebuah seni untuk mentransformasikan pengetahuan kepada murid. Hal ini bisa terwujud ketika seorang guru mengajar dengan cara yang kreatif.
  • Menggunakan metode mengajar yang berbeda ke setiap anak murid dapat membantu murid lebih memahami pelajaran/materi.
  • Mengenal kerakter setiap murid menjadi penting ketika mengajar karena dapat membantu guru untuk menemukan metode yang tepat dalam mengajar.
  • Seorang guru harus cerdas dan mencerminkan keterpelajaran, integritas pribadi, dan kemampuan komunikasi dengan siswa.
  • Ketika seorang guru mencerminkan ketiga tersebut, seorang guru bisa lebih menstransformasikan ilmu dan membantu siswa untuk menjaga minat dan hasil belajar yang didapat anak murid.
  • Selain itu, dengan mencerminkan ketiga hal tersebut, seorang guru tidak meremehkan kemampuan muridnya yang bisa saja hal tersebut membuat murid tidak berminat untuk belajar.
  • Menggunakan paedagogi modern dalam mengajar dapat membantu guru untuk membuat dengan mudah murid memahami pelajaran/materi yang disampaikan.

BAB V
SARAN

Saran saya terhadap Iter, yaitu:

  • Sebelum melakukan wawancara terhadap guru, sebaiknya iter terlebih dahulu menguasai hal yang ingin ditanyakan sehingga jelas hal yang ditanyakan.
  • Sebaiknya iter menguasai teori paedagogi karena hal itu membuat pertanyaan yang hendak ditanyakan jelas dan bisa lebih mendetail.

Saran saya terhadap guru PAR, yaitu :

  • Tetap menggunakan metode mengajar yang berbeda kepada setiap anak seperti ungkapan PAR bahwa setiap adalah unik. Karena hal tersebut membantu anak dalam belajar.

  • Tetap menjaga motivasi dan filosofi yang dibuat dalam mengajar karena hal tersebut membuat kualitas mengajar menjadi meningkat.

  • Meningkatkan jumlah murid yang diajarkan.
  • Tetap menggunakan paedagogi modern dalam proses belajar mengajar.

Saran saya terhadap kelas M.K Paedagogi, yaitu:

  •  Tugas individu seperti ini sebaiknya dilakukan juga di tahun depan karena membantu mahasiswa memahami untuk menjadi pendidik terutama bagi anak-anak.

  • Sebaiknya tugas individu ini dilakukan sebelum tugas kelompok karena tugas individu ini dapat membantu mahasiswa dalam menjadi pengajar bagi anak-anak.

Tidak ada komentar: