Kamis, 10 Maret 2011

Hujan Terindah & Terburuk


Lahirlah seorang anak yang sudah lama dinantinya. Ia begitu semangat meyambut kedatangan anaknya. Semua sudah disiapkannya dari lama. Ketika mendengar suara tangisan anak pertamanya, ia begitu senang dan ia mulai meneteskan air mata. “Alhamdulillah”, kata lelaki itu. Sekarang, ia sudah menjadi seorang ayah. Hari-hari barunya dimulai dan dilewati bersama sang buah hati.
*
“Kring… kring… kring…”, bunyi telepon rumah. Lelaki itu pun bergegas mengangkatnya. Sang istri lagi memandikan anaknya. “Telepon dari siapa,yah?”, tanya istrinya. Tapi, tidak ada jawaban dari lelaki itu. Sambil menggendong anaknya, si istri mendekati suaminya. Dilihatnya muka lelaki itu begitu sedih dan mengeluarkan air mata. Lalu, lelaki itu menutup teleponnya. “Ayah masuk Rumah Sakit dan ingin ketemu sama anak kita ”, kata lelaki itu kepada istrinya dengan terbata-bata. Suasana di rumahnya berubah menjadi hening. Hanya suara tangisan dari sang istri dan celoteh dari sang anak yang terdengar. Saat itu juga, lelaki itu langsung ke rumah sakit dan membawa anaknya. Ketika sampai di RS mereka langsung ke ruang ICU. “Mana anakmu?”, tanya ayah laki-laki itu. Lelaki itu langsung mendekatkan anaknya ke ayahnya. Si kakek berusaha mengangkat tangannya dan menyentuh wajah cucunya. Cucu pertamanya dan terakhirnya. Karena, saat itu juga sang kakek meninggal dunia. Hanya 5 menit si kakek menyentuh wajah cucunya. Betapa beruntungnya cucu pertamanya itu, karena cuma dia satu-satunya cucu yang sempat bertemu dengan kakeknya. Lelaki itu tidak bisa bicara apa-apa. Perasaannya bercampur aduk, senang dan sedih. Laki-laki itu memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Sampai tiba saatnya penguburan ayahnya. Lelaki itu, terpaksa membawa anaknya ke kampungnya. Padahal, usia anaknya masih 16 hari.
*
Beberapa minggu kemudian, lelaki itu sudah bisa melupakan rasa sedih yang selalu menghampirinya. Dan yang membuatnya bisa tertawa lagi adalah anaknya. Anaknya yang suka mengganggunya dengan tingkahnya yang lucu.
Sejak ayah meninggal, lelaki itu mengalami kesulitan ekonomi. Ia harus membayar uang kuliah adik-adiknya. Biasanya, ia hanya membantu ayahnya untuk membayar uang kuliah. Semua pekerjaan dilakukan lelaki itu asalkan halal. Demi sang buah hati dan demi adik-adiknya. Dia tidak pernah mengeluh akan pekerjaannya. Semua dikerjakannya dengan ikhlas dan dia selalu tersenyum. Dan ia selalu mengannggap masalah sebagai tantangan.
Akhir-akhir ini, jarang aku melihat laki-laki itu. Yang akrab aku panggil “Owan atau Om Iwan”. Owan selalu menasehatin aku dan mengajari aku untuk menjadi lebih dewasa. Dia selalu mengajari aku untuk tidak selalu mengeluh dan menerima semuanya dengan ikhlas. Mengajariku untuk tidak menyerah sama keadaan. Aku selalu teringat dengan kata-katanya.
Terimalah apapun yang diberikan Allah padamu. Insya Allah itu yang terbaik yang dipilih Allah untukmu. Dan jangan menyerah sama keadaan. Hadapi masalah itu sebagai tantangan karena itu bisa buat kita semangat menghadapinya.
Aku tidak bisa bayangin kalau aku jadi Owan. Tapi, aku yakin Owan pasti bisa melewati ini. Sorenya, aku melihat Owan sedang duduk dan melamun. Tidak biasanya Owan seperti ini. Aku langsung menghampiri Owan.
“Owan!”, panggilku.
“(Tersentak kaget) Eh!, Ai”, kata Owan.
“Owan kenapa?. Kok melamun dan sendiri lagi. Zulfa kok tidak di bawa, Owan!. Ai rindu ini sama Zulfa. Oh ya, Owan!. Tante kok juga jarang kelihatan sekarang. Tante sehatkan, Owan?”, tanyaku.
Owan tersenyum dan menjawab, “ Owan tidak apa-apa. Owan hanya sedang berpikir saja, Ai!. Zulfa lagi di rumah sama Tante. Soalnya, Zulfa lagi kurang sehat. Makanya, Tante juga jarang kelihatan. Alhamdulillah, Tante sehat.”
Aku pun tersenyum dan langsung diam. Setelah beberapa menit kami diam, Owan mulai cerita tentang apa yang dipikirkannya.
“ Owan bingung mau kerja yang bagaimana lagi. Semua kerja yang halal sudah Owan lakukan. Hanya tinggal jadi tukang becak yang belum Owan lakukan. Owan ingin kerja itu, tapi becaknya tidak ada”, kata Owan.
Sedih rasanya mendengar cerita Owan. Owan sudah aku anggap sebagai orangtuaku karena aku tinggal sendiri. Ingin aku membantu Owan. Tapi, aku juga tidak bisa membantu Owan. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah menyemangatin Owan. Seperti, yang selama ini Owan lakukan untukku.
“ Owan selalu bilang sama Ai untuk tidak menyerah sama keadaan dan Owan juga bilang kita harus terima apapun yang diberikan-Nya. Karena, itu Insya Allah jalan yang terbaik untuk kita. Ini semua tantangan untuk Owan. Seperti yang sering Owan bilang sama Ai. Mana Owan yang Ai kenal?. Yang tidak menyerah sama keadaan”, kataku pada Owan.
Owan hanya diam tidak berkata apa-apa.
Hari itu pun berlalu begitu saja. Di rumah, Owan langsung di hibur sama Zulfa. Saat ini, hanya Zulfa yang bisa menghibur Owan. Zulfa yang membuatnya selalu tersenyum dan mampu bertahan sampai sekarang ini. Tante juga selalu mendukung Owan. Sepulang owan kerja, tante selalu memberikan perhatian yang lebih pada Owan. Dan tante juga mencoba memberikan pelayanan yang baik dirumah.
*
Beberapa tahun kemudian, Owan masih melakukan pekerjaan itu. Hari-hari dilalui Owan tanpa mengeluh lagi dan Owan tidak pernah menyerah sama keadaan. Owan yang sekarang lebih terlihat bahagia dari sebelumnya. Karena Zulfa anak satu-satunya Owan sudah menyelesaikan sekolah sampa tingkat menengah atas dan adik Owan juga sudah menyelesaikan kuliahnya. Aku yang menyaksikan peristiwa itu, juga ikut manangis karena terharu akan perjuangnya sebagai ayah dan juga abang bagi adik-adiknya.
Kulihat Owan dan tante juga ikut meneteskan airmata melihat peristiwa itu. Bisa aku rasakan kebahagiaan yang sedang dirasakan keluarga ini. Berjuangan yang tidak sia-sia yang selama ini dilakukannya. Bahkan sampai anaknya selesai kuliah, Owan masih saja melakoni pekerjaannya itu. Pekerjaan yang tidak menetap. Apa saja dilakoni Owan asalkan halal.
Sore itu, aku main ke rumah Owan. Karena, kabarnya Owan sakit. Tibanya di rumah Owan, aku pun langsung menjumpai Owan. Aku dan Owan banyak bercerita tentang yang lalu.
“ Ternyata Ai benar. Semuanya itu harus kita terima. Apapun yang diberikan-Nya pada kita. Dan itu memang yang terbaik untuk Owan. Terimakasih ya, Ai!. Kamu selalu mendukung Owan. Sama seperti Tante yang selalu ada dan mendukung Owan untuk tidak menyerah sama keadaan. Makasih ya, Ai!. Ai sudah Owan anggap sebagai anak Owan sendiri.”, kata Owan.
“ (Aku tersenyum) Sudah seharusnya Ai mendukung Owan. Selama ini kan, Owan yang selalu mendukung Ai dan menasehati Ai bahkan mengajari untuk menjadi dewasa. Dan kata-kata itu dari Owan, Ai hanya mengingati Owan akan kata-kata yang pernah Owan ucapkan ke Ai. Lagian Owan, yang lalu biarlah berlalu. Sekarang, semua sudah berubah Owan. Masa-masa sulit itu sudah Owan lewati bersama keluarga Owan dan sekarang Zulfa juga sudah kerja. Jadi, Owan bisa lebih santai. Sama-sama Owan. Ai juga mau bilang terimakasih sama Owan dan Tante. Ai juga sudah nganggap Owan sebagai Papa Ai.”, jawabku.
Hari itu pun aku habiskan bersama Owan. Hari yang penuh dengan canda tawa bersama Owan, Tante dan Zulfa. Adik-adik Owan sudah tidak tinggal bersama Owan lagi. Karena, mereka juga sudah berkeluarga. Bahagia rasanya bisa berkumpul bersama keluarga. Aku jadi ingin pulang ke kampung. Beberapa hari, aku bermalam di rumah Owan karena permintaan beliau. Karena sakitnya juga tidak kunjung sembuh. Semakin hari semakin parah. Hingga akhirnya, Owan menghembuskan nafas terakhirnya. Sedih rasanya, tapi itu sudah kehendak-Nya.
Itulah lelaki yang kukenal setelah Papa kandungku. Seperti itulah dia, yang tidak mau menyerah sama keadaan. Dan selalu tegar dalam masalah. Aku sebagai anak angkatmu, akan selalu mengenangmu dan mengingat kata-katamu. Terimakasih untuk semuanya, Owan. 

32 komentar:

10029 Liliyana Sari mengatakan...

cerita yang bagus dan menarik :)
walau byk org mgkn sulit mengerti, tapi aku bsa menangkap hikmah dari ceritamu sel !!
GOOD JOB :)

Fitri Dian Adlina mengatakan...

Iya sel, aku setuju sama lili. Menulislah dengan caramu sendiri, yang khas dan sesuai dengan karaktermu. Karena setiap orang itu unik. *udah kayak penulis handal pulak y sel* haha . Be your self :)

zuhrati10069 mengatakan...

aku juga stuju ma lili + fitri .
mantraaaaap ~
cara orang memahami sesuatu kan beda-beda :)
hhe :D

efrianty shaila mengatakan...

thks ya..
udah komen,,
n mksih sarnny..

zukhrini khalish mengatakan...

bagus ceritanya

menulis sesuatu apa apa adanya

efrianty shaila mengatakan...

makasih rin..
mksdny?

10062raja mengatakan...

bagus2, beragam2 jenis post kawan2 kita
hahahahhaa

efrianty shaila mengatakan...

thks pin..
iy lah pin.. nmny jg krya kreatif..

ade yunika mengatakan...

okkkk..
ceritanya bgus.. :))

efrianty shaila mengatakan...

mksih de..

Siti Jamilah mengatakan...

memang laa si sela ni..
selalu nge-post cerita2 sedih..
gk di fb gk di blog.ckck..
cerita2 kayak di princess tu laa sekali2 sel. yg ujung2nya happy ending.hehe..
tpi ceritanya bagus untuk renungan kita yg hidup2 dijaman2 skg ni.haha..
:D

10054 Novira Khasanah Hrp mengatakan...

bgus shell...
hidup tu misteri,,
kita gak tw pa yg kan trjadi bsok,,
tp kta jgn ptus asa mnhadapi itu smw...

efrianty shaila mengatakan...

apa iy mil..
ywd deh!. entr sela buat yg happy ending..
hehhee..
mkasih ya mil ats saranny..

efrianty shaila mengatakan...

yups..bner tuh pie,,
thks ya pie..

10060ahmad fauji mengatakan...

agak susah ngerti krn lemotnya otak q...
tp intinya dapet
hhe

01073 mengatakan...

rindu sma jid

efrianty shaila mengatakan...

fauji : bkn hanya fauji yg blg gtu, sih!..
hehe..
tp apa mmg sulit d pahami ya??
mnrt sela gk lohh..

nabila : siapa jid, bil?

10-025 Steven mengatakan...

Luar Biasa!!

efrianty shaila mengatakan...

mkasih y steven..

Arief's Blog mengatakan...

bagus sell :) semangat..!!

efrianty shaila mengatakan...

oke rf..
mksih!..
:)

Khairunnisah mengatakan...

Walaupun sempat gak ngerti, akhirnya ngerti juga...
HHahaha...
Terus nulis yaa selaaa...
SEMANGAT!!!!!!

Nurul Mukhlisah mengatakan...

memang ini cerita sedih ya??kok saya tidak merasa??maklum saya kan tidak peka.
baru kali ini baca tulisan sela.pesen buat sela:jangan sampe niru made ya.nurul sih gak tau gaya si made gimana. tapi yang penting jangan meniru orang sombong dan pelit seperti dia!!!ingat itu!

efrianty shaila mengatakan...

kak nisa : hahhaa.. mmg sulit ya kak d pahami?.. thks ya kak..

numu : sela udah maklum sm numu kok.. hahhaha..
insya allah gak kok nu,,
sela jg gk mw smbong n pelit kyk dy tuh.. thks ya nu, udah ngingetin..

10121 Putri Olwinda S mengatakan...

bagus sell...
mantap..

10020 Febri Inka Mandasari mengatakan...

baguss.....

lanjutkan.....

Laura Marsaulina mengatakan...

nice post.........

Khairunisa Pri Utami mengatakan...

banyak banget ternyata anak psikologi yang bakat menulis ya...

kereeen :)

efrianty shaila mengatakan...

febri, laura n amy :
thks ya..

Deepraj Kaur mengatakan...

nice story.....

Si Pengukir Sejarah mengatakan...

masih terlalu biasa ini Sela. EYD masih banyak yang salah. Tokoh terkesan klise. Alur biasa. Gaya penuturan monoton.
Coba lagi Sela. Seorang pembaca belum tentu bisa menulis. Tapi untuk jadi seorang penulis, ia wajib banyak baca.

efrianty shaila mengatakan...

oke bang..
yg pst sela akn cb terus,,
hehhe...
makasih bang masukkannya,
akan sela cb perbaiki lg..
n akan sela ingt kalau m'jd penulis wajib byk baca..