Minggu, 08 Mei 2011

Pentingkah Bimbingan & Konseling di Sekolah?

Ada beberapa alasan mengenai pentingnya layanan bimbingan dan
konseling di sekolah yaitu:
Pertama, perbedaan antar-individu. Setiap siswa mempunyai
perbedaan antara satu dan lainnya, di samping persamaannya. Perbedaan
tersebut menyangkut; kapasitas intelektual, ketrampilan (skills), motivasi,
persepsi, sikap, kemampuan dan lain- lain.
Kedua, siswa menghadapi masalah-masalah dalam pendidikan.
Masalah-masalah tersebut bisa masalah pribadi, hubungan dengan orang lain,
(guru,teman), masalah kesulitan belajar dan lain-lain. Dalam penyelesaiannya
seringkalitidak bisa dilakukan sendiri, melainkan memerlukan bantuan orang
lain untuk berdialog. 
Ketiga, masalah belajar. Siswa datang ke sekolah dengan harapan agar
dapat mengikuti pendidikan yang baik, tetapi tidak selamanya demikian. Ada
berbagai masalah yang mereka hadapi, bersumber dari stress karena tugas-tugas,
ketidakmampuan mengerjakan tugas, dan masalah lainnya.
Bimbingan dan konseling di sekolah itu sendiri dapat diartikan pelayanan khusus yang terorganisasi sebagai bagian integral dari suatu lingkungan sekolah, yang tugasnya adalah meningkatkan perkembangan siswa/i dan membantu mereka ke arah penyesuaian yang adekuat dan pencapaian prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan potensi mereka masing-masing.
Contoh :
Lia (bukan nama sebenarnya) adalah siswa kelas I SMU Favorit Salatiga yang barusan naik kelas II. Ia berasal dari keluarga petani yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 17 km di luar kota Salatiga, sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SLTP anaknya melanjutkan ke SMU di Salatiga; orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-sudah melanjutkan sekolah ke kota, tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah.Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. Sejak diterima di SMU favorit di satu pihak Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima, tetapi di lain pihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang bersahabat, pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja, dan sombong. Makin lama perasaan ditolak, terisolik, dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak krasan, tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung; terus bertahan, susah tak ada/punya teman yang peduli. Dasar saya anak desa, anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya benar-benar menjadi anak minder, pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat, sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak.
Lia adalah murid yang mempunyai masalah dengan dirinya sendiri. Dia menjadi minder dengan teman sebayanya karena dia hanya anak seorang petani. Sedangkan, temannya adalah anak dari keluarga kaya yang menurutnya teman-temannya itu egois, suka pilih-pilih teman dan lain-lain. Sehingga, keminderannya itu membuatnya menjadi anak yang pemalu, takut bergaul, dan membuat nilainya semakin jatuh.
Disini, Lia membutuhkan bimbingan dan konseling. Yang bisa mengarahkan dan membantunya menyelesaikan masalahnya. Seorang konselor bisa mengajaknya berdiskusi dan konfrontasi langsung untuk mendorongnya beranjak dari pola pikir irasional ke rasional / logis dan realistis melalui persuasif, sugestif, dan pemberian nasehat secara tepat.

Daftar Pustaka
Sukadji, S. (2000). Psikologi Pendidikan dan Psikologi Sekolah. Depok: Lembaga Pengambangan Sarana Pengukuran dan Pendidikan Psikologi (LPSP3) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Tidak ada komentar: