Senin, 16 September 2013

TEORI-TEORI BELAJAR AWAL

Di setiap masa, sains adalah hal-hal yang dihasilkan oleh riset, dan riset tidak lain adalah metode efektif yang telah ditemukan dan sesuai dengan zamannya. Setiap langkah dalam kemajuan sains atau ilmu pengetahuan akan bergantung pada langkah sebelumnya, dan proses ini tidak bisa dipercepat hanya dengan berharap. (Boring, 1930)

Pengkondisian Klasik dan Koneksionisme
Di awal abad ke-20, disiplin psikologi yang baru terbentuk sedang mencari arah dan fokus. Studi Watson tentang perilaku dengan tujuan menjelaskan hubungan antara stimuli dan respons menjadi perspektif dominan. Asumsi utama behaviorisme adalah bahwa perilaku yang dapat diamati adalah fokus studi, yang harus dipelajari adalah elemen paling sederhana dari perilaku adalah perubahan behavioral.
Istilah behaviorisme merujuk pada beberapa teori yang mengandung tiga asumsi dasar tentang belajar. Asumsi itu adalah: (1) Yang menjadi fokus studi seharusnya adalah perilaku yang dapat diamati, bukan kejadian mental internal atau rekontruksi verbal atas kejadian. (2) Perilaku harus dipelajari melalui elemennya yang paling sederhana (stimuli spesifik dan respons spesifik). Contoh reaksi behavioral yang diteliti oleh periset awal antara lain gerak refleks, reaksi emosional yang dapat dilihat, dan respons motor (gerak) dan verbal. (3) Proses belajar adalah perubahan behavioral. Suatu respons khusus terasosiasikan dengan kejadian dari suatu stimulus khusus, dan terjadi dalam kehadiran stimulus tersebut.
Pengkondisian refleks dalam eksperimen Bekheterev dan Pavlov merefleksikan asumsi ini dan mendemonstrasikan bahwa relasi natural antara stimulus dan refleks yang terasosiasikan dapat diubah. Riset ini memuat asumsi bahwa sebab-sebab dari perilaku yang kompleks akan dapat diungkap.
Melatih refleks untuk merespons stimulus baru membutuhkan pemasangan berulang kali antara stimulus tersebut dan stimulus yang secara alamiah memunculkan refleks. Sebagai hasilnya, stimulus yang dikondisikan (CS) akan menimbulkan respons yang dikondisikan (CR). Ini disebut pengkondisian klasik. Model ini menjelaskan respons hewan terhadap petunjuk atau isyarat yang diasosiasikan dengan bahaya dan identifikasi metode untuk menghadapi reaksi maladaptif pada hewan dan manusia. Selain itu, model ini menjelaskan perkembangan Conditional Compensatory Responses (CCRs) terhadap petunjuk sebelum pemberian obat dalam latar yang biasa untuk pemberian obat. Fenomena ini menjelaskan toleransi obat dan overdosis obat.
Riset Thorndike terhadap hewan adalah meneliti perilaku mandiri hewan, bukan reaksi refleks. Setelah melihat makin cepatnya hewan berhasil mencapai makanan, dia menyimpulkan bahwa respons yang tepat “tertanam” melalui asosiasi dengan akses ke makanan, yakni suatu keadaan yang memuaskan (hukum efek). Risetnya tentang transfer belajar mengindikasikan bahwa training pada tugas tertentu hanya memfasilitasi belajar pada tugas yang sama, dan bahwa mata pelajaran sekolah yang sulit tidak berfungsi sebagai latihan mental untuk memperkaya keterampilan berpikir.
Dua pendekatan belajar lainnya, yang disebut teori S-R, dikembangkan oleh Clark Hull dan Edwin Guthric. Hull mendeskripsikan penguatan sebagai pemenuhan kebutuhan biologis dan Guthric mengidentifikasi prinsip belajar tunggal, asosiasi atau kontiguitas dari stimulus dan respons.

Psikologi Gestalt
Psikologi Gestalt berfungsi sebagai penentang behaviorisme di pertengahan abad ke-20. Psikologi Gestalt berpendapat bahwa yang diteliti seharusnya perilaku molar, bukan molecular. Psikologi Gestalt fokus pada persepsi dalam belajar. Organisme merespons keseluruhan ketimbang stimuli spesifik, organisasi stimuli memengaruhi persepsi, dan individu membangun persepsi ketimbang hanya menerima informasi secara pasif. Karakteristik tampilan stimulus yang memengaruhi persepsi adalah komprehensivitas dan stabilitas gambaran (hukum Pragnanz), dan karakteristik lain yang memberi kontribusi pada kelengkapan struktur atau pola.
Psikologi Gestalt memberi kontribusi beberapa konsep untuk memahami pemecahan masalah. Mungkin yang paling terkenal adalah konsep pemahaman yang melibatkan reorganisasi persepsi seseorang untuk “melihat” solusi. Analisis kontemporer mengindikasikan bahwa pemahaman kreatif pada masalah baru memerlukan kerja keras dan riset, periode inkubasi, momen wawasan, dan pengkajian lebih lanjut. Dalam kehidupan sehari-hari, wawasan terhadap masalah mungkin diperoleh lewat pengaturan kembali bebrapa aspek dari persoalan, elaborasi, dan relaksasi pembatas.
Kontribusi lain dari Psikologi Gestalt adalah pembedaan oleh Wertheimer atas belajar arbitrer (tanpa makna) dan belajar bermakna, dan faktor-faktor lain yang memengaruhi pemecahan masalah. Di dalamnya mencakup pengidentifikasian masalah untuk menyusun solusi yang memiliki  nilai fungsional, peran penemuan pemecahan masalah yang bermakna dengan panduan, dan menghindari pembatasan pemecahan masalah. Hal-hal yang membatasi itu antara lain adalah kekakuan fungsional, yakni ketidakmampuan untuk melihat elemen-elemen dari masalah dengan cara baru, dan belenggu masalah, yakni kekakuan dalam memecahkan masalah. Perkembangan lainnya adalah aplikasi konsep Gestalt ke formasi kelompok sosial dan motivasi serta konsep belajar laten.

Perbandingan antara Behaviorisme dan Teori Gestalt
Pada pertengahan 1930-an, baik itu behaviorisme maupun Psikologi Gestalt menjadi makin diperluas. Masing-masing perspektif berusaha mengembangkan satu teori komprehensif yang akan menjelaskan semua hal tentang belajar. Kurang dari satu dekade kemudian, konflik antara dua teori itu dikritik karena tidak produktif. Ada dua hal yang menimbulkan masalah ini (McConnell, 1942). Pertama, istilah yang digunakan oleh masing-masing perspektif memperbesar perbedaan di anatara keduanya. Misalnya, istilah “wawasan/pemahaman” dan “koneksi” merepresentasikan deskripsi yang ekstrem dari proses belajar. Kesulitan tugas mungkin merupakan satu faktor dalam proses belajar yang dideskripsikan oleh para teoritis. Jika tugasnya sangat sulit sampai-sampai pemelajar tidak dapat membangun hubungan dengan situasi, maka dia harus menggunakan metode coba-coba (trial-and-error). Sebaliknya, tugas yang kurang sulit, di mana pengalaman masa lalu mungkin ikut berperan, mungkin diselesaikan dengan cepat dan akurat. Karena itu, kilasan pemahaman yang dideskripsikan oleh Psikologi Gestalt mungkin, dalam beberapa kasus, dimasukkan dalam transfer melalui elemen-elemen yang identik (McConnell, 1942, h. 26).
Kedua, muncul deskripsi yang berbeda tentang belajar. Perbedaan ini sebagian muncul dari perbedaan dalam konteks eksperimental (lihat Tabel 2.5). Tugas dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah penemuan yang dibutuhkan untuk menghasilkan respons yang tepat. Akan tetapi, situasi yang tidak terstruktur dan rumit memerlukan pengalaman masa lalu pemelajar dan penemuan pola perilaku yang tepat (McConnell, 1942).

TABEL 2.5
Perbandingan antara Behaviorisme dan Teori Gestalt

Karakteristik Utama
Behaviorisme
Teori Gestalt
Asumsi dasar
Perilaku yang dapat diamati, bukan even sadar atau mental, harus dipelajari; belajar adalah perubahan; hubungan antara stimuli dan respons harus dipelajari,
Individu bereaksi kepada sebuah kesatuan; karena itu, pemelajaran adalah organisasi dan reorganisasi bidang sendoris. Kesatuan tersebut memiliki properti baru yang berbeda dari yang ada pada elemen tersebut.
Eksperimen umum
Trial and error, Tikus menyusuri labirin, binatang keluar dari kandang; respons emosional atau refleks, pemasangan stimulus.
Mengorganisasikan kembali: Subjek ditempatkan dalam situasi yang mensyaratkan restrukturisasi bagi solusi.
Formula belajar
Stimulus – respons – imbalan; respon emosional: stimulus 1 dan stimulus 2 = respon
Konstelasi stimuli – organisasi – reaksi.


Sumber : Gredler, Margaret E. 2011. Learning and Instructiona: Teori dan Aplikasi. Jakarta : Kencana.

Tidak ada komentar: